Menu

Mode Gelap
Tidak Ada Jaringan Internet, Siswa SDK 058 Lere-Mapitara Laksanakan Kegiatan TKA di Polindes Berkat Keberhasilan Tekan Pengangguran, Pemkab Sikka Raih Penghargaan Nasional dan Insentif 1 Miliar Rupiah Pelantikan DPP IKAL-Lemhannas, Capt. Marcellus Hakeng Soroti Pentingnya Hilirisasi Pangan dan Energi Polemik Transparansi Dana Lingkungan Cengkareng Barat Memanas, Ketua RT Tempuh Jalur Pidana dan Tolak Penonaktifan Gunakan Bahan Peledak Tangkap Ikan, Ditpolairud Polda NTT Rilis DPO Buru Warga Sikka Luncurkan Buku “The Pancasila Market Economy”, Pakar: Ekonomi Indonesia Butuh Keseimbangan Pasar, Negara, dan Nilai Luhur Lantaran Uang Rp 10 Ribu Rupiah, Oknum Anggota Sat. Lantas Polres Sikka Aniaya Anak di Bawah Umur

Opini

RD Leo Mali: Menemukan Kemuliaan Sejati dalam Kesunyian Salib

Avatar photobadge-check


					RD Leo Mali: Menemukan Kemuliaan Sejati dalam Kesunyian Salib Perbesar

(Ket. Foto : Romo Leo Mali)

Oleh: RD Leo Mali (Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang).

Kupang, Wacanaindonesia.id – Melalui perenungan kita diingatkan bahwa ada kemuliaan yang tidak bersinar dari tahta tinggi atau istana megah, bukan juga dari tepuk tangan massa. Kemuliaan seperti itu justru menyala dari keheningan kayu salib. Inilah yang kita rayakan pada Hari Minggu Palma.

Paradoks Minggu Palma Pada mulanya, kita menyambut Sang Raja dengan seruan meriah: “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang demi nama Tuhan Hosana di tempat yang maha tinggi!” (Mat. 21: 9). Namun, dalam sekejap, bagaimana kita menyaksikan Ia diolok, diludahi, ditelanjangi, dan dipakukan pada palang penghinaan (Mat. 26: 14- 27: 66).

Inilah paradoks Palma—perayaan kemuliaan yang ditautkan erat dengan jalan sengsara Tuhan. Di sanalah terpantul kemuliaan sejati: Kemuliaan yang tidak datang dari kemegahan duniawi seperti perang yang sedang terjadi di Timur Tengah. Tapi, kemuliaan itu tampak dalam kasih yang merendah sampai titik paling akhir di Salib.

Nabi Yesaya, berbicara tentang Hamba Allah yang memiliki lidah seorang murid—lidah yang memberi semangat kepada yang letih lesu (Yes 50:4). Namun, ini bukan lidah yang mencari selamat. Sang Hamba tidak menutup wajah ketika dicemooh. Ia tidak mundur ketika disiksa. Ia justeru membuka diri kepada penderita, sebab Kekuatannya bukan dari keinginan untuk menang, melainkan dari kepercayaan mendalam kepada Allah yang menopang.

Yesus Kristus adalah perwujudan utuh dari nubuat ini. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Ia tidak mempertahankan kemuliaan-Nya sebagai Allah, melainkan mengosongkan diri, menjadi sama seperti manusia (Flp 2:6-7). Bahkan lebih dari itu: Ia menjadi hamba yang taat sampai mati, bahkan mati dengan hina, di kayu salib. Salib-Nya adalah puncak kekuatan kasih.

Di sanalah Kristus memerintah sebagai Raja; bukan dengan tongkat besi, tapi dengan pelukan pengampunan; bukan dalam busana yang mewah cemerlang, tapi dalam luka yang mengalirkan belas kasih.

Narasi Cinta yang Tak Terukur

Kisah Sengsara Yesus dalam Mateus 26 dan teks paralelnya dari Injil yang lain, bukan sekadar laporan kronologis penderitaan seorang manusia. Tapi, ia adalah narasi cinta yang tidak terukur. Kisah ini berawal dari ruang atas, ketika Yesus membasuh kaki para murid—tindakan yang di jaman-Nya hanya dilakukan oleh seorang  budak perempuan.

Setelah itu, Ia meneyrahkan roti dan anggur sebagai tubuh dan darah-Nya. Kisah itu kemudian  berlanjut dalam jalan salib. Ia tidak lari dari pengkhianatan. Ia tidak  menolak cawan pahit, dan tidak membela diri di hadapan Pilatus. Hingga akhirnya Ia di salibkan. Dan dari atas salib Ia berdoa: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Dari atas salib, Ia berdoa: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Ucapan singkat ini berbicara lebih banyak dari jutaan dan miliaran lembar teks yang dituliskan kemudian mengenai kisah ini. Kebenarannya cuma satu: penderitaan bukanlah kata terakhir dari kisah kristus.

Bahwa Pengosongan diri Allah (kenosis Allah) bukan kebodohan, melainkan jalan kepada pengangkatan. Kesetiaan dalam kasih, meski terasa sia-sia, tapi justeru menjadi terang bagi dunia.

Tantangan Bagi Dunia Hari Ini

Kisah sengsara Kristus menantang kita untuk jujur bahwa dunia hari ini tidak mengajarkan keberanian seperti itu. Banyak orang enggan mengambil risiko demi kebenaran: Dalam dunia politik, banyak yang memilih diam ketika menyaksikan korupsi dan manipulasi kekuasaan, demi menjaga kursi dan kepentingan.

Di ruang hukum, keadilan sering ditawar atau dibeli, dan mereka yang tahu kebenaran kerapkali lebih suka menunduk diam daripada bersuara. Di sekolah-sekolah/universitas banyak guru takut memberi nilai buruk pada siswa/mahasiswa. Sedapat mungkin semua lulus dengan nilai baik.

Meski sebenarnya ada yang seharusnya mengulang. Dalam masyarakat kita ada banyak hal yang tidak sejalan dengan kesaksian kristus.

Di tengah semua ini, menjadi murid Kristus berarti menempuh jalan sunyi; sering penuh luka; berani ditertawakan karena iman; berani dimusuhi karena kejujuran; berani memikul salib di tengah zaman yang lebih menyukai zona nyaman daripada jalan kesaksian.

Maka, marilah kita bertanya dengan jujur dalam hati: Apakah saya sungguh bersedia berjalan bersama Kristus dalam segala risiko kemuridan yang harus ditanggung? Pertanyaan ini kita ajukan sebagai konfrontasi diri di hadapan kesaksian Kristus sendiri. IA tidak menyembunyikan wajah-Nya ketika dicela. Ia tidak bersembunyi dari salib.

Ia tidak membela diri ketika dihukum, bukan karena Ia tidak berdaya melainkan supaya dunia mengenal KasihNya. Kristus sendiri yang memulai jalan penderitaan ini sebagai jalan menuju kemuliaanNya. Luka yang Ia derita telah menjadi sumber kehidupan kita.

Maka, jangan sembunyikan iman kita. Marilah bersaksi bersamanya. Bersama Dia kita akan sanggup bersaksi. Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!

****

Penulis : Romo Leo Mali

Editor : Niko Sanggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende

11 Mei 2026 - 18:57 WIB

Epidemi Sunyi di Sikka: Membaca Gelombang Bunuh Diri dari Perspektif Sosial hingga Hukum

26 April 2026 - 23:25 WIB

PERCAYA DIRI TANPA KAPASITAS: WAJAH BARU KRISIS PUBLIK

26 April 2026 - 20:24 WIB

Langkah Bupati Sikka Bangun Budaya Baca: Gerakan 30 Menit Membaca Resmi Berlaku

22 April 2026 - 18:33 WIB

MATAHARI FLORES DI LANGIT LEMBANG: CATATAN PERJALANAN MENUJU KEDAULATAN PANGAN

20 April 2026 - 13:20 WIB

Trending di News