Maumere, wacanaindonesia.id-Akibat ketiadaan akses internet, sebanyak puluhan siswa-siswi SDK 056 Lere, terpaksa melaksanakan ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Polindes Egon Gahar, Kecamatan Mapitara-Sikka.
Berdasarkan penjelasan kepala sekolah, Primus Agustinus Wawo Ngebu, TKA ini dilaksanakan dengan menggunakan starlink milik warga setempat atas persetujuan dinas PKO. Para siswa terpaksa melaksanakan ujian di Polindes desa setempat.
“Kami di Desa Egon Gahar mengalami kesulitan dengan jaringan internet. Sebenarnya kami memiliki power XL, tapi sudah setengah tahun ini tidak aktif. Tapi kebetulan di Lere ini ada warga yang memiliki starlink. Tetapi jaringan ini tidak bisa menjangkau hingga di sekolah, hanya sampai Polindes. Sehingga atas persetujuan dinas PKO, kami tetap melakukan kegiatan TKA di Polindes Egon Gahar,” kata Primus, kepada media ini, Senin, 16 Meret 2026.
Sementara itu, pada proses pelaksanaan TKA dilakukan sebanyak dua sesi. Primus mengatakan butuh waktu yang panjang karena terkendala dengan hal teknis, akibat jaringan internet yang putus nyambung.
“Sesi pertama kami lakukan, tetapi belum selesai. Kami login berulang kali dan butuh waktu, sehingga kami butuh waktu sampai besok. Sementara sesi kedua bisa berjalan dengan lancar,” imbuh Primus ketika dimintai keterangan via telepon oleh media ini.
Primus menambahkan, bahwa pihaknya beberapa waktu lalu sudah mendatangi kantor Dinas PKO Kabupaten Sikka. Mereka meminta persetujuan agar pelaksaaan ujian dilaksanakan di kota. Tujuannya agar siswa bisa menumpang di sekolah tertentu yang jaringannya memadai. Namun, pihak Dinas PKO tidak mengizinkan, atas dasar kemungkinan lain yang bisa diantisipasi.
“Minggu lalu kami sudah bertemu pihak dinas PKO agar pelaksaan ujian di Maumere. Kalau bisa kami menumpang di sekolah lain, sehingga itu akan lebih mudah. Tetapi pihak dinas tidak mengizinkan. Karena memungkinkan ada starlinnk. Kami juga sediakan genset milik warga untuk antisipasi ketika listrik padam”, jelas Primus.
Primus berharap agar pemerintah bisa memperhatikan kondisi jaringan, terutama di daerah yang belum terjangkau. Selain itu, pemerintah juga bisa lebih serius dalam menangani kondisi listrik yang masih mengalami kendala.
“Kalau kami di Mapitara ini, jaringan tidak ada. Listrik itu kerap kali mati, jadi kalau listrik mati jaringan juga tidak bisa. Karena itu kami berharap kepada pemerintah memperhatikan kondisi jaringan di seluruh Indonesia, termasuk kami di Mapitara. Semoga ada orang-orang yang mau membantu kami dalam waktu dekat”, harap Primus.
Senada, Saul Bollatra, salah satu guru SDK 058 Lere juga berharap pemerintah lebih peka dalam menangani permasalahan seperti ini. Terutama dalam program anggaran MBG dan KOPDES Merah Putih yang bisa memberikan sedikit dana bagi sekolah yang terkendala jaringan. Menurut Saul, sejauh ini pemerintah hanya memberikan jawaban yang sama, namun tidak ada progres nyata dijalankan.
“Harapan kami adalah kalau ada sisa anggaran program MBG dan KopDes Merah Putih, tolong sisakan sedikit untuk kami. Karena masalah yang sama ketika kami sampaikan ke pemerintah, jawabannya masih tetap sama yaitu “Nanti diusahakan”, imbuhnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, warga berupaya untuk membelikan voucher untuk 10 peserta, 1 teknisi dan 1 proktor untuk kelancaran tes. Sementara untuk mengantisipasi listrik yang sering padam, sekolah berupaya meminjam genset milik warga.
Selain SDK Lere, beberapa SD lainya juga terdampak kendala jaringan diantaranya, SDK Natakoli, SdK Watubaler, SD Negeri Baokrenget, SD Wairpuat, SD Glak, dan SD Galit
****
Jurnalis: Risna Ase
Editor: Redaksi








