Menu

Mode Gelap
Tidak Ada Jaringan Internet, Siswa SDK 058 Lere-Mapitara Laksanakan Kegiatan TKA di Polindes Kabel Bergelantungan dan Wajah Buram Tata Kelola Infrastruktur Digital Polda Metro Jaya Tahan Terduga Pelaku Persetubuhan terhadap Anak di Cawang, Kuasa Hukum Apresiasi Penyidik Giat KKN di Nagekeo, Mahasiswa NTT: Kami Siap Sukseskan Program Gentaskin Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih Jampidsus Febrie Adriansyah Buka Suara Soal Penegakan Hukum Kasus Korupsi oleh Polri Wamenaker Ajak Gen Z Jadi Wirausahawan, Jangan Tunggu Lowongan Kerja

News

PMKRI Atambua Desak Penanganan Jembatan Rusak, Audiensi dengan Bupati Belu Diwarnai Ketegangan

Avatar photobadge-check


					PMKRI Atambua Desak Penanganan Jembatan Rusak, Audiensi dengan Bupati Belu Diwarnai Ketegangan Perbesar

BELU-Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Atambua St. Yohanes Paulus II Oktovianus mau bersama DPC melakukan audiensi resmi dengan Bupati Belu guna mendesak percepatan penanganan jembatan rusak di tiga desa: Debululik, Sisifatuberal, dan Lutarato. Infrastruktur yang rusak tersebut selama ini menjadi keluhan serius masyarakat karena menghambat akses ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Ketua yang di sapa Okto menerangkan bahwa Audiensi yang sejatinya bertujuan membangun komitmen bersama justru diwarnai dinamika yang memprihatinkan. Dalam forum resmi tersebut, Bupati Belu sempat melontarkan pernyataan bernada emosional kepada mahasiswa, “Kalian itu siapa? Kalian atur-atur saya, tekan-tekan saya?”

Pernyataan itu menimbulkan tanda tanya besar di ruang publik: apakah kritik dan aspirasi rakyat kini dianggap sebagai tekanan?

PMKRI menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan untuk mengatur, apalagi menekan, melainkan menjalankan fungsi kontrol sosial sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil. Suara mahasiswa adalah representasi kegelisahan rakyat yang terdampak langsung oleh rusaknya infrastruktur tersebut.

Dalam pertemuan itu, PMKRI juga menyerahkan surat pernyataan resmi sebagai bentuk keseriusan dan tanggung jawab organisasi. Namun, muncul kekhawatiran bahwa dokumen tersebut tidak diperlakukan secara layak.

Jika benar aspirasi tertulis rakyat hanya berakhir di tempat sampah, maka yang dibuang bukan sekadar kertas, melainkan harapan masyarakat tiga desa.

Lebih lanjut, ajakan untuk berfoto bersama seusai audiensi ditolak oleh perwakilan PMKRI. Penolakan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk sikap tegas bahwa perjuangan ini bukan soal pencitraan, tetapi soal komitmen nyata terhadap solusi.

PMKRI Cabang Atambua menegaskan akan terus mengawal persoalan ini hingga ada langkah konkret dan transparan dari pemerintah daerah. Kritik bukanlah ancaman. Justru alergi terhadap kritiklah yang menjadi ancaman bagi demokrasi.

Masyarakat Debululik, Sisifatuberal, dan Lutarato tidak membutuhkan retorika. Mereka membutuhkan jembatan yang bisa dilalui, akses yang bisa digunakan, dan pemerintah yang siap mendengar, bukan tersinggung.

****

Kontributor: Fridus Kali

Editor: KW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Giat KKN di Nagekeo, Mahasiswa NTT: Kami Siap Sukseskan Program Gentaskin

16 Juli 2026 - 08:11 WIB

BULOG NTT Rampungkan Penyaluran Banpang Februari – Maret 2026 Tepat Waktu

1 Juli 2026 - 21:30 WIB

Soroti Penggunaan Trotoar Jalan oleh UD. Fajar Barat Geliting, Organisasi IMKD: Pemerintah Jangan Tebang Pilih

29 Juni 2026 - 19:23 WIB

Menang Aklamasi, Maria Somi Sili Resmi Pimpin PMKRI Larantuka

27 Juni 2026 - 18:07 WIB

Dugaan permintaan uang tebusan oleh oknum polisi kepada pengencer BBM bersubsidi di kabupaten sikka, PMKRI maumere desak usut tuntas

27 Juni 2026 - 17:50 WIB

Trending di Nasional