Opini, wacanaindonesia.id-Peradaban modern hari ini tengah tersedot dalam pusaran arus teknologi digital yang masif. Mulai dari kecerdasan buatan hingga otomatisasi sistem, semuanya diagungkan sebagai motor penggerak masa depan, termasuk dalam ekosistem pendidikan kita.
Namun, di balik gegap gempita modernisasi ini, Indonesia sedang menghadapi sebuah kontradiksi yang mengkhawatirkan: kita menuntut lahirnya sistem pendidikan teknologi yang mutakhir, tetapi di saat bersamaan, kita melupakan nasib manusia yang mengoperasikannya.
Penerapan teknologi dalam proses belajar-mengajar bukanlah sekadar modernisasi alat, melainkan sebuah misi untuk mengentaskan masyarakat awam dari kebutaan literasi digital. Dalam misi krusial ini, gurulah yang berdiri di garis paling depan sebagai pembawa suluh penerang. Tanpa bimbingan guru, teknologi hanya akan menjadi labirin yang membingungkan bagi anak-anak bangsa.
Ironisnya, status sosial dan penghargaan terhadap guru di negeri ini masih sangat memprihatinkan. Guru sering kali dipandang sebelah mata, diredusir perannya sebatas buruh jasa administrasi yang dibayar dengan upah minimum. Ketika sang pendidik disamakan dengan pekerja biasa, maka wajar jika transformasi teknologi kita pun berjalan lambat dan biasa-biasa saja. Sebuah lompatan peradaban mustahil terjadi jika fondasi kemanusiaannya terus dikesampingkan.
Metafora Energi dan Kemutlakan Kesejahteraan
Jika negara ini serius ingin mengubah teknologi yang semenjana menjadi inovasi yang canggih di ruang kelas, maka prasyaratnya tidak boleh ditawar: sejahterakan gurunya secara canggih pula. Kesejahteraan ekonomi adalah bahan bakar utama bagi guru untuk berinovasi. Pemerintah wajib memfasilitasi subsidi belajar teknologi secara menyeluruh dan berkeadilan bagi segenap guru tanpa sekat birokrasi. Guru harus diposisikan sebagai representasi kemajuan teknologi itu sendiri.
Secara filosofis, eksistensi guru dapat dianalogikan dengan hukum kekekalan energi dalam rumpun sains. Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan secara instan; ia hanya bisa direkayasa dan dialihkan bentuknya. Begitu pula dengan guru sejati. Karakter dan talenta seorang pendidik tidak bisa dicetak secara instan lewat pelatihan formal singkat jika jiwanya tidak memanggil.
Dan yang paling penting, peran guru tidak akan pernah bisa digantikan atau dimusnahkan oleh mesin secanggih apa pun. Guru adalah sumber energi peradaban yang abadi.
Menagih Komitmen Negara
Sebagai generator utama peradaban, ruang kreativitas guru tidak boleh dibatasi. Negara memikul tanggung jawab penuh untuk menyediakan infrastruktur, ruang berkembang, dan akses keilmuan secara gratis guna mengasah kompetensi mereka.
Jika pemerintah enggan memberikan kebebasan dan fasilitas tersebut, maka ada satu jalan keluar mutlak: berikan jaminan kesejahteraan yang nilainya melampaui seluruh lembaga atau institusi kedinasan lain di Indonesia.
Gugatan ini sangat logis, sebab tidak akan pernah ada para pemimpin, birokrat, pengusaha, maupun aparat di institusi-institusi mentereng tersebut tanpa sentuhan tangan dingin seorang guru.
Sangat naif jika kita membiarkan para guru hidup dalam garis kemiskinan sementara institusi lain bermewah-mewah. Jika kemiskinan guru terus dipelihara, seluruh capaian institusional bangsa ini menjadi kehilangan esensi moralnya. Mereka telah melupakan hulu dari mata air ilmu pengetahuan.
Pada akhirnya, para perancang filsafat kehidupan sejatinya adalah guru-guru yang memegang mandat luhur dari Yang Maha Kuasa. Mengabaikan harkat hidup guru sama saja dengan mencederai masa depan peradaban itu sendiri.
****
Penulis: H. Hegong da Silva
(Civitas Akademika SMK Bina Karya Larantuka)













