Maumere, Wacanaindonesia.id, FTBM (Forum Taman Baca Masyarakat) Sikka di bawah naungan Pos Dompet Duafha, menyelenggarakan sekolah ceria, di SDI Ladubewa, Desa Done, Kecamatan Magepanda, NTT, Sabtu, (19/09/2026).
Kegiatan ini merupakan trauma healling sebagai bentuk respon terhadap gempa Flores, Agustus lalu.
Flora Kutu, Kepala Sekolah SDI Ladubewa, memberikan respon positif dari kegiatan ini.
Sebagai salah satu mitra FTBM, Flora merasa senang, karena dengan kegiatan seperti bermain dan mewarnai dapat memulihkan mental anak-anak yang trauma akibat gempa.
“Dengan adanya kegiatan ceria, dengan bermain, itu bisa memulihkan mental mereka, yang trauma akibat gempa,” kata Flora.
Kegiatan ini juga kegiatan yang sudah beberapa kali diadakan di sekolah ini. Selama lima tahun sebagai mitra FTBM, SDI Ladubewa turut mengembangkan sekolah literasi yang awalnya garis merah, menjadi garis hijau.
Ketua FTBM Sikka, Grek Cabrail Fareira, mengatakan, dalam kondisi trauma yang dialami oleh anak-anak akibat gempa, kegiatan ini perlu dilakukan.
Keadaan mencekam saat gempa, seperti gelisah dan takut perlu dilakukan dalam kegiatan trauma healing.
“Pasti banyak anak yang merasa takut berasa tidak nyaman dan gelisah dengan situasi saat gempa maka dibuatlah kegiatan trauma healing untuk mengembalikan anak-anak punya keceriaan sehingga mereka punya kecemasan itu bisa hilang,” jelas Grek.
Diantara kegiatan ceria yang diadakan seperti mewarnai, menyusun puzzle, dan berkreasi, Grek berharap dapat membawa anak-anak untuk lebih ceria dan semangat untuk bersekolah.
“Harapannya agar dengan seperti ini anak-anak bisa merasa lebih ceria, lebih semangat bersekolah, terus mereka lebih semangat belajar, bermain bersama teman-teman, dan lebih tekun,” ujarnya.
Setelah gempa melanda Flores pada agustus lalu, trauma healling sekolah ceria ini terus dilakukan dengan fokus pada anak-anak sekolah dasar baik di kota maupun daerah pedesaan.
Sejauh ini FTBM telah bergerak di beberapa titik sekitaran Kabupaten Sikka, meliputi daerah Wuring, Waturia, dan akan berlanjut ke Teka Iku, Nangahaledoi, hingga Palue.
Jurnalis : Risna Ase









