Pendahuluan
Sekian tahun silam, saya terkena gangguan yang bikin saya berpikir, hidup saya selesai. Apa yang terjadi? Saya merasa diserang kecemasan hebat dan mendalam. Tanpa tahu apa sebabnya, jantung saya berdebar kencang. Tubuh saya kaku. Kaki dan tangan berkeringat dingin. Asam lambung naik yang bikin sesak napas, dan saya merasa takut mati yang intens. Saya dibawa berulang kali ke UGD RS Sint Carolus ataupun RSPAD Gatot Subroto.
Ringkas cerita, saya yang tadinya suka naik pesawat dan menikmati penerbangan, mendadak jadi takut. Butuh waktu lama untuk terbiasa kembali bisa naik pesawat, meski dengan kondisi batin yang belum sepenuhnya nyaman.
Ketika ke dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater), saya dinyatakan mengidap gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Ini sejenis gangguan jiwa ringan sebenarnya dan sama sekali tidak mematikan. Namun, jika tidak ditangani bisa mengganggu aktivitas rutin, menghambat karir politik dan bisnis.
Data menunjukkan, 19 juta orang Indonesia secara spesifik terdampak oleh gangguan kecemasan ini.
Seorang teman psikiater pernah berkisah, dia punya klien/pasien seorang pensiunan jenderal. Jenderal yang pemberani di medan tempur ini takut dan cemas jika mandi sendirian. Jadi, dia selalu minta istrinya menjagadan berdiri di pintu kamar mandi, bila hendak mandi. Dia tidak takut mati di medan perang, tetapi takut mati di kamar mandi. Itulah anxiety disorder.
Bersama psikiater, saya menjalani psikoterapi dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk pulih karena penyebabnya kuat dan dalam: akibat saya menyimpan luka batin parah karena pernah mengalami penolakan berat dan berkepanjangan dalam suatu relasi pribadi. Itulah life crisis.
Psikiater yang menolong saya di Rumah Sakit Kepresidenan RSPAD Gatot Subroto adalah Brigjen TNI Dr. dr. Bagus Sulistyo, SpKJ, M.Kes yang menjabat Kepala Departemen Kesehatan Jiwa RSPAD.
Dokter Bagus, mengatakan kepada saya; “Pak Valens, kalau mau luka batinnya cepat sembuh, kuncinya hanya satu, yaitu pengampunan. Maafkan dan ampuni orang-orang yang pernah menolak, menghina, memfitnah, ataupun mengkhianati Anda.”
Salah Stigma Kalau ke Psikiater Itu “Gila”
Kita semua butuh dokter bila sakit. Entah sekadar flu, gangguan pernapasan, penyakit kardiovaskular, hingga diabetes. Begitu pula bila kita mengalami gangguan emosi, pola pikir dan perilaku.
Masalahnya, di kalangan masyarakat kita dewasa ini, apabila seseorang mengalami depresi berat, kecemasan kronis, atau punya pikiran untuk mengakhiri hidup, banyak yang memilih diam karena takut dicap “gila”.
Padahal, depresi juga merupakan penyakit medis-psikiatris. Seperti diabetes atau hipertensi, depresi memiliki gejala, penyebab biologis-psikologis-sosial, dan yang paling penting: itu bisa ditangani. Kunci penanganannya ialah psikiater.
Penting untuk disadari, bahwa kita semua butuh psikiater. Psikiater bisa membantu orang sehat menjadi tetap atau semakin sehat. Orang sakit dibantu psikiater menjadi sembuh dan sehat.
Depresi: Bukan Sekadar “Sedih”
Depresi klinis berbeda dengan sedih biasa. Secara biologis, ada ketidakseimbangan zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin. Secara psikologis, muncul pola pikir negatif terus-menerus, rasa tidak berharga, dan putus asa. sedangkan pada aspek sosial, sering dipicu tekanan ekonomi, relasi, trauma, atau isolasi.
World Health Organization (WHO) mencatat peresentase kesehatan masyarakat Indonesia. Data WHO pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sebanyak 9,8% penduduk Indonesia mengalami gangguan mental, dengan tingkat depresi sebanyak 6,6%. Gangguan mental ini lebih banyak menyasar pada remaja berusia 15-24 tahun, dengan persentasi 62%. Akibatnya, sebanyak 1.800 remaja melakukan tindakan bunuh diri setiap tahun.
Angka ini bukan untuk menakuti. Tapi untuk menegaskan suatu hal, bahwa masalah kesehatan masyarakat bukan masalah pribadi yang harus disembunyikan.
Mengapa Bunuh Diri Bisa Terjadi?
Bunuh diri jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia (bunuh diri) merupakan ujung dari rasa sakit psikologis yang tidak tertolong, yang disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, putus asa kronis yang menyebabkan otak mengalami disfungsi. Akibatnya, penderita mengalami depresi dan sulit melihat masa depan.
Kedua, distorsi kognitif, yang memunculkan keyakinan dalam diri seorang penderita bahwa dirinya “saya menjadi beban”, “tidak akan pernah pulih”. Ketiga, tindakan mengisolasi diri yang lahir dari stigma, sehingga banyak yang menarik diri dan tidak mencari bantuan.
Fakta penting lainnya ialah, hanya 10,4% remaja usia 15-24 yang depresi mencari bantuan psikologis. Artinya, 9 dari 10 orang berjuang sendirian. Padahal penderita depresi sangat butuh dukungan orang dekat, keluarga dan lingkungan sosial.
Apa Peran Psikiater? Dokter, Bukan Hakim
Psikiater merupakan dokter spesialis kesehatan jiwa. Berbeda dengan psikolog yang hanya bisa psikoterapi, psikiater bisa meresepkan obat (farmakoterapi).
Terdapat dua pendekatan utama yang terbukti efektif mencegah bunuh diri. Pertama, psikoterapi: lebih pada terapi bicara untuk mengubah pola pikir putus asa, melatih strategi mengatasi krisis, dan membangun harapan. Ini menargetkan akar psikologis.
Kedua, farmakoterapi: berupa obat antidepresan yang membantu menstabilkan kerja otak. Saat gejala fisik seperti susah tidur, tidak nafsu makan, dan energi habis membaik, pikiran bunuh diri biasanya ikut menurun.
Bukti lapangan menunjukkan bahwa Skrining Cek Kesehatan Gratis pada tahun 2025 terhadap 13 juta orang menemukan 1% gejala depresi dan 0,9% gejala cemas. Artinya, mitigasi psikologis dalam bentuk pencegahan dan penanganan psikiatri yang tepat telah membantu seseorang dari tindakan bunuh diri.
Kita Semua Butuh Psikiater, Bukan Hanya ODGJ
Sudah menjadi definisi umum bahwasannya ODGJ merupakan orang dengan gangguan jiwa. Namun pilihan orang sehat untuk tidak ke Psikiater merupakan pemikiran yang keliru. ODGJ membutuhkan Psikiater, begitupun orang sehat. Terdapat beberapa cara yang perlu dilakukan orang sehat untuk mengkonfrontasikan kesehatan psikisnya.
Pertama, untuk orang sehat, perlu datang ke psikiater. Itu merupakan langkah preventif. Sama seperti cek lab. Tujuannya menjaga resiliensi atau ketahanan mental, mengelola stres, dan mencegah depresi jadi berat. Kedua, untuk ODGJ, lebih pada pengobatan. Depresi berat tanpa bantuan medis risikonya fatal. Ketiga, menghapus stigma dengan mencari psikiater sebagai tanda waras. Itu berarti Anda sadar, bertanggung jawab, dan mau lanjut hidup.
Tanda Bahaya dan Apa yang Harus Dilakukan
Segera cari bantuan jika Anda atau orang terdekat memiliki:
1. Membicarakan ingin mati atau “lebih baik tidak ada”.
2. Menarik diri total, berhenti aktivitas yang dulu disukai.
3. Perubahan drastis: tidak tidur atau malah tidur terus, tidak mau atau ogah makan.
4. Memberi barang-barang berharga seperti mau pamitan.
Ini jalur bantuan yang bisa diakses sekarang di Indonesia:
1. Puskesmas: Punya layanan kesehatan jiwa dasar yang ditanggung BPJS.
2. RS Umum/RSJ: Ada poli jiwa.
3. Darurat 24 Jam: Hubungi 119 ext 8 — Layanan Kesehatan Jiwa Kemenkes.
4. Orang terdekat: Jangan dibiarkan sendiri(an). Dengarkan dia tanpa menghakimi. Ajaklah dia ke fasilitas kesehatan.
Penutup
Depresi bukanlah akhir hidup Anda. Apapun masalah Anda pasti ada jalan keluarnya. Kesehatan jiwa adalah hak, bukan privilese atau kemewahan. Dalam konteks ini, psikiater adalah mitra medis untuk mewujudkannya. Jadi, tidak perlu takut atau malu ke psikiater.
Saya memungkas catatan ini dengan pesan berikut:
“Jika Anda sedang di titik paling gelap hari ini, jangan kecut hati. Ingatlah selalu bahwa perasaan bisa berubah, termasuk perasaan tidak berdaya yang sedang melilit hati dan pikiran Anda.”
Sekali lagi, Anda tidak sendiri. Ungkapkan perasaan Anda kepada orang yang dipercaya atau langsung ke psikiater. Meminta bantuan merupakan tindakan paling berani dan paling waras yang bisa Anda lakukan. Anda berharga. Hidupmu penting. Kita semua butuh psikiater.
****
Penulis: Valens Daki-Soo
(Penulis adalah peminat Psikologi, Pengusaha, Pendiri & Direktur Utama PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa dan Firma Hukum Veritas Diginitas Salus (VDS Group).













