Menu

Mode Gelap
Tidak Ada Jaringan Internet, Siswa SDK 058 Lere-Mapitara Laksanakan Kegiatan TKA di Polindes Respon Gempa Flores, FTBM Sikka Gandeng Pos Dompet Duafha Giat Sekolah Ceria di SDI Ladubewa HIMPAUDI NTT Salurkan Sembako untuk Guru PAUD Korban Gempa di Sikka PMKRI Maumere Gelar Mimbar Bebas: Kawal Bantuan Gempa dan Desak Usut Tuntas Penembakan Dokter Hewan Asal Sikka PMKRI Maumere Tagih Pemkab Sikka Pertanyakan Sisa Logistik, Arah Rp17,5 Miliar Dana Pemulihan, dan Prioritas Penerima Bantuan  Dua Warga NTT Gugur Ditembak di Jayawijaya, PMKRI Maumere Desak Kapolri – Panglima TNI Buru Pelaku PMKRI Nasional Jangkau Tonggurambang, Bantuan Datang di Tengah Konflik Lahan dan Keterbatasan Hunian

Nasional

Valens Daki-Soo: Doktrin Baru TNI Cocok untuk Era Perang Modern dan Menuntut Profesionalisme Militer

Avatar photobadge-check


					Valens Daki-Soo: Doktrin Baru TNI Cocok untuk Era Perang Modern dan Menuntut Profesionalisme Militer Perbesar

Jakarta, wacanaindonesia.id-Panglima TNI, Jendral Agus Subiyanto bersama Wakil Panglima TNI, Jendral Tandyo Budi R mengesahkan doktrin Perisai Trisula Nusantara di Kondiklat TNI, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (2/7/2026).

Pengesahan doktrin tersebut menuai respon dari salah satu pengamat militer asal Nagekeo, Valens Daki-Soo. Dalam keterangannya, Valens berpendapat bahwa, doktrin Perisai Trisula Nusantara sebagai doktrin pertahanan terbaru Tentara Nasional Indonesia (TNI) sangat tepat dan kontekstual menghadapi dinamika Lingstra (lingkungan strategis) dengan hakikat dan persepsi ancaman yang makin rumit.

Oleh karenanya, doktrin tersebut harus implementatif, dapat dilaksanakan oleh TNI dengan mengedepankan profesionalisme militer dan modernisasi Alutsista. Hal itu dikatakan Valens kepada media ini, Selasa (7/7/2026).

Sebagaimana diberitakan, doktrin pertahanan terbaru itu disahkan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto pada 2 Juli 2026 di Kodiklat TNI, Serpong.

“Langkah ini diambil sebagai bentuk transformasi strategis militer Indonesia dalam merespons pergeseran karakter perang modern abad ke-21 serta dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Oleh karena itu, TNI harus sungguh-sungguh berfokus pada upaya penguatan postur pertahanan dan berorientasi pada peningkatan profesionalisme militer,” ujar Valens, yang lama bekerja di lingkungan TNI.

Valens antara lain pernah menjadi staf khusus Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Kiki Syahnakri dan staf khusus Kepala Badan Intelijen Negara (Ka.BIN) Letnan Jenderal TNI Arie J Kumaat.

Penyempurnaan Doktrin “Tridek”

Menurut Valens, sebenarnya doktrin baru tersebut tidak sama sekali baru atau mengganti total doktrin lama Tri Dharma Eka Karma (Tridek).

Ia mengatakan, doktrin tersebut adalah penyempurnaan dari doktrin pertahanan TNI sebelumnya, Tridek, agar sesuai dengan perkembangan zaman, khususnya dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hakikat ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini dan ke depan.

Doktrin baru ini dirancang, karena TNI menyadari bahwa perang masa kini atau “perang modern” tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional secara fisik.

“Dalam era perang modern lebih diutamakan taktik yang terintegrasi tinggi seperti penggunaan rudal jarak jauh dan senjata presisi, drone kamikaze dan kawanan drone (drone swarm). Juga Peperangan Elektronik (electronic warfare), Perang Informasi (Information Warfare) dan Perang Siber (Cyber Warfare) yang dijalankan secara terpadu atau integral,” jelas Valens.

Filosofi Tiga Pilar (Trisula) dan Fokus pada Profesionalisme

Sesuai namanya (Trisula), lanjut Valens, doktrin ini menekankan kekuatan pertahanan yang bertumpu pada keselarasan tiga pilar utama, yaitu Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU)

“Dalam konteks ini, terjadi Sinergi Terpadu, yakni ketiga matra harus bergerak bersama secara sinkron seperti tiga mata tombak trisula untuk menciptakan efek tangkal, deterrence effect, yang kredibel, kuat dan handal di wilayah kedaulatan NKRI,” ujar Valens.

Hal terpenting, menurut dia, TNI harus kembali dan semakin fokus pada upaya modernisasi alat utama sistem kesenjataan (Alutsista) dan mempertajam profesionalisme militer.

“TNI mesti melanjutkan proses reformasi internal dengan fokus pada upaya mengembangkan postur pertahanan yang kuat, moderen dan profesional. Janganlah para prajurit disuruh menangani urusan pertanian, peternakan, perikanan dan aspek-aspek lain di luar domain kemiliteran,” tegasnya.

Valens mengatakan, dirinya membantu sejumlah jenderal Angkatan Darat dalam fase krusial reformasi institusional TNI AD. Oleh karenanya, dia mencintai TNI dan tidak ingin TNI mengalami lagi politisasi sebagai alat kekuasaan seperti terjadi pada era Orde Baru.

“Secara konseptual-substantif, Perisai Trisula Nusantara menjadi panduan hidup (living concept) bagi seluruh jajaran prajurit TNI agar lebih adaptif, lincah (agile), dan siap menghadapi eskalasi ancaman multidimensi di masa depan. Itu sebabnya para prajurit kita mesti berlatih tempur terus-menerus, bukan mengurusi hal-hal yang bukan bidangnya. Fokuslah pada pengembangan teknologi robotik, AI, pengggunaan drone dan modernisasi Alutsista secara progresif,” pungkas Valens.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Respon Gempa Flores, FTBM Sikka Gandeng Pos Dompet Duafha Giat Sekolah Ceria di SDI Ladubewa

20 September 2026 - 13:00 WIB

PMKRI Maumere Gelar Mimbar Bebas: Kawal Bantuan Gempa dan Desak Usut Tuntas Penembakan Dokter Hewan Asal Sikka

15 September 2026 - 19:51 WIB

PMKRI Maumere Tagih Pemkab Sikka Pertanyakan Sisa Logistik, Arah Rp17,5 Miliar Dana Pemulihan, dan Prioritas Penerima Bantuan 

13 September 2026 - 14:55 WIB

Dua Warga NTT Gugur Ditembak di Jayawijaya, PMKRI Maumere Desak Kapolri – Panglima TNI Buru Pelaku

12 September 2026 - 04:44 WIB

Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU, Pengamat Maritim: Jembatan Unik Pesantren, Ekonomi Biru, dan Sektor Maritim

8 September 2026 - 13:56 WIB

Trending di Nasional