Menu

Mode Gelap
Tidak Ada Jaringan Internet, Siswa SDK 058 Lere-Mapitara Laksanakan Kegiatan TKA di Polindes Respon Gempa Flores, FTBM Sikka Gandeng Pos Dompet Duafha Giat Sekolah Ceria di SDI Ladubewa HIMPAUDI NTT Salurkan Sembako untuk Guru PAUD Korban Gempa di Sikka PMKRI Maumere Gelar Mimbar Bebas: Kawal Bantuan Gempa dan Desak Usut Tuntas Penembakan Dokter Hewan Asal Sikka PMKRI Maumere Tagih Pemkab Sikka Pertanyakan Sisa Logistik, Arah Rp17,5 Miliar Dana Pemulihan, dan Prioritas Penerima Bantuan  Dua Warga NTT Gugur Ditembak di Jayawijaya, PMKRI Maumere Desak Kapolri – Panglima TNI Buru Pelaku PMKRI Nasional Jangkau Tonggurambang, Bantuan Datang di Tengah Konflik Lahan dan Keterbatasan Hunian

News

Safrisius Jemeon Terpilih sebagai Mandataris RUAC ke XXXVII PMKRI Mataram, Soroti Ketimpangan Sosial dan Persoalan di Kota Mataram

Avatar photobadge-check

Safrisius Jemeon terpilih sebagai Mandataris/Formatur Tunggal/Ketua Presidium RUAC ke XXXVII PMKRI Cabang Mataram.

Mataram, wacanaindonesia.id-Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Mataram resmi memiliki pemimpin baru. Safrisius Jemeon terpilih sebagai Mandataris Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) XXXVII PMKRI Cabang Mataram untuk periode 2026–2027. Pemilihan ini berlangsung dalam rangkaian RUAC dari tanggal 2 hingga 5 September 2026.

Terpilihnya Safrisius Jemeon menjadi babak baru bagi PMKRI Mataram. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat pengkaderan sekaligus menegaskan kembali peran mahasiswa dalam melihat dan merespons langsung berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakat di lapangan.

Dalam sambutannya setelah terpilih, Safrisius menegaskan bahwa kepemimpinan PMKRI tidak boleh berhenti pada urusan internal organisasi saja. Menurutnya, seorang pemimpin dan kader mahasiswa harus berangkat dari kenyataan hidup masyarakat dan memiliki keberanian untuk melihat masalah secara kritis. Salah satu persoalan besar yang menjadi sorotan utama dalam forum tersebut adalah masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial yang masih menjerat Kota Mataram.

Data Pemerintah Kota Mataram dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, ekonomi Kota Mataram tumbuh sebesar 5,43 persen. Di sisi lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah ini mencapai 82,37 poin dan masuk dalam kategori sangat tinggi. Pada tahun yang sama, persentase penduduk miskin berada di angka 7,15 persen, atau mencakup sekitar 39,82 ribu jiwa.

Angka kemiskinan tersebut sebenarnya menunjukkan perkembangan yang baik karena turun dari angka 8,00 persen pada tahun 2024. Jumlah warga miskin juga menyusut dari 43,74 ribu jiwa. Namun, bagi Safrisius, penurunan angka di atas kertas ini bukan berarti urusan kemiskinan sudah selesai. Ia menilai masih ada puluhan ribu warga yang berada di kategori miskin yang harus tetap menjadi perhatian bersama, terutama bagi kaum muda dan organisasi mahasiswa.

“Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan IPM tentu merupakan capaian yang patut diapresiasi. Tetapi kita juga perlu bertanya, apakah pertumbuhan tersebut sudah dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat? Apakah masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal?” ujar Safrisius dalam rilisan resminya kepada media ini Sabtu, 5/9/2026.

Selain masalah kemiskinan, persoalan ketenagakerjaan juga menjadi tantangan besar di Kota Mataram. Data tahun 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Mataram sebesar 4,80 persen, sementara Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berada di angka 70,87 persen. Pemerintah Kota Mataram sendiri menyebutkan bahwa salah satu tantangan utamanya adalah ketidaksesuaian antara keahlian tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha saat ini.

Bagi PMKRI Mataram, persoalan-persoalan tersebut menjadi sangat penting jika dikaitkan dengan masa depan generasi muda. Menurut Safrisius, anak muda tidak boleh hanya dididik untuk menjadi pencari kerja. Mereka harus didorong untuk menjadi kelompok yang mampu menciptakan peluang sendiri, membangun inovasi, dan memberikan solusi nyata atas masalah yang di hadapi masyarakat.

Tantangan lain yang juga membutuhkan perhatian adalah masalah pemerataan ekonomi. Data PINTAR Kota Mataram menunjukkan Rasio Gini daerah ini berada di angka 0,393 pada tahun 2024, yang berarti turun 0,019 poin dari tahun sebelumnya. Angka Rasio Gini ini digunakan untuk melihat seberapa pincang distribusi pengeluaran di tengah masyarakat.

Bagi PMKRI, seluruh data statistik ini bukan sekadar deretan angka untuk dipajang. Data harus menjadi jalan masuk untuk memahami kenyataan sosial secara lebih mendalam di kehidupan sehari-hari.

Kepemimpinan yang Visioner, Solutif, dan Inovatif

Menghadapi tantangan kota yang kompleks—mulai dari akses pendidikan, kesempatan kerja kaum muda, pemberdayaan masyarakat, perkembangan kota, hingga masalah lingkungan—PMKRI Cabang Mataram dituntut melahirkan kader yang tangguh. Kader tersebut tidak hanya harus kuat secara organisasi, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, keberanian bersuara, dan mampu menghadirkan solusi nyata.

Semangat ini sejalan dengan tema yang diusung dalam RUAC XXXVII, yaitu “Melahirkan Kepemimpinan Visioner, Solutif, dan Inovatif Menuju PMKRI Berdaya Saing.”

Safrisius menjelaskan bahwa tema tersebut harus diwujudkan dalam kerja yang nyata:

1. Kepemimpinan visioner berarti mampu melihat tantangan di masa depan.

2. Kepemimpinan solutif berarti tidak berhenti pada kritik saja, tetapi mampu menawarkan jalan keluar.

3. Kepemimpinan inovatif berarti berani mencari cara-cara baru dalam menjawab masalah.

Dengan arah baru ini, kepemimpinan PMKRI periode 2026–2027 diharapkan tidak hanya melahirkan program kerja formalitas, tetapi benar-benar menciptakan gerakan yang membawa dampak langsung bagi masyarakat. Terpilihnya Safrisius Jemeon menjadi awal tanggung jawab baru untuk membawa PMKRI Cabang Mataram semakin dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.

PMKRI Mataram menegaskan posisinya sebagai ruang pengkaderan yang melahirkan pemimpin muda berintegritas, kritis terhadap ketimpangan, peka terhadap masalah rakyat, dan berani menawarkan solusi demi masa depan Kota Mataram.

“PMKRI tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap persoalan sosial. Kita harus hadir, membaca persoalan secara kritis, membangun gagasan, dan ikut mencari jalan keluar. Keberpihakan kepada masyarakat harus diwujudkan dalam kerja nyata,” tegas Safrisius.

 

Editor: Niko Sanggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Respon Gempa Flores, FTBM Sikka Gandeng Pos Dompet Duafha Giat Sekolah Ceria di SDI Ladubewa

20 September 2026 - 13:00 WIB

HIMPAUDI NTT Salurkan Sembako untuk Guru PAUD Korban Gempa di Sikka

16 September 2026 - 17:39 WIB

PMKRI Maumere Gelar Mimbar Bebas: Kawal Bantuan Gempa dan Desak Usut Tuntas Penembakan Dokter Hewan Asal Sikka

15 September 2026 - 19:51 WIB

PMKRI Maumere Tagih Pemkab Sikka Pertanyakan Sisa Logistik, Arah Rp17,5 Miliar Dana Pemulihan, dan Prioritas Penerima Bantuan 

13 September 2026 - 14:55 WIB

PMKRI Nasional Jangkau Tonggurambang, Bantuan Datang di Tengah Konflik Lahan dan Keterbatasan Hunian

11 September 2026 - 19:08 WIB

Trending di News