Maumere_Wacanaindonesia.id, Menjelang musim tanam, masyarakat adat Desa Korobhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menggelar upacara Loka Po’o.
Senin, 7 September 2026, seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara ini digelar di tempat sakral. Tempat ini sudah puluhan tahun menjadi lokasi dilaksanakannya upacara.
Para Mosalaki (Pemangku Adat) bersama dengan masyarakat Desa Korobhera, Lekebai, dan Riipua, berbondong- bondong datang, untuk melaksanakan ritual. Disana hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk.
“Kami percaya bahwa bumi ini adalah punya seorang perempuan. Jadi, dalam sekali setahun laki-laki yang harus melayani perempuan,” kata Blasius Senda, salah satu warga Desa Korobhera.
Loka Po’o dalam bahasa adat, Loka berarti Lokasi, sedangkan Po`o berarti proses masyarakat dalam menyediakan bambu, menanak nasi dan memberi makan kepada leluhur.
Dalam wawancara bersama media ini, Blasius menjelaskan, upacara ini diadakan sebagai bentuk ucapan syukur sekaligus permohonan kepada para leluhur sebelum musim tanam tiba.
“Tujuan kami setelah memberi makan mereka, juga memohon agar meminta hujan berlipat ganda, tapi turunnya sebagus hujan dengan panas itu bersamaan,” kata salah satu Mosalaki ini.
Proses Jalannya Upacara
Sebelum upacara dimulai, Para Mosalaki dan stafnya akan menginformasikan kepada masyarakat terkait keputusan waktu pelaksanaan.
Mereka kemudian akan mengumpulkan beras dan uang yang sudah sesuai kesepakatan. Beras tersebut kemudian dikumpulkan kepada para Mosalaki yang bertugas, lalu dibawa ke tempat sakral tadi.
“Jadi persiapan Loka Po’o itu, kami pemangku adat ini biasanya menginfokan kepada masyarakat. Misalnya anggaran untuk beli babi, beras dan lain sebagainya. Setelah barang-barang ini sudah ada, kita bawa kesana, ke tempat tadi,” jelas Blasius.
Selama seharian itu, mereka akan bekerja sama sesuai dengan tupoksi masing-masing. Tugas mereka tidak sembarangan, sudah turun temurun dan diwariskan anak dan cucu.
Sebelum proses masak dimulai, terlebih dahulu para leluhur akan dipanggil melalui ritual. Disana , mereka akan memberikan makanan berupa sirih pinang, beras, moke dan darah.
“Sebelum itu kami harus memanggil dulu nenek moyang, kami panggil dan memberi mereka makan sirih pinang, beras, moke, ini untuk nanti mereka bawa pulang,”
Doa-doa adat mengiringi setiap upacara itu berlangsung. Mereka tidak hanya meminta kepada leluhur (Ngga’e Wena Tana), tetapi masih ada kepercayaan bahwa anugerah Tuhan Mahakuasa (Dua Lulu Wula) turut ada bersama mereka.
Setelah pemberian makan itu, proses menanak nasi dalam bambu dimulai. Beras disimpan di dalam batang bambu yang telah dipotong, lalu dilapisi daun pisang. Beras tersebut lalu ditambah dengan santan kelapa.
Di atas bara api, bambu ini terus dibolak-balik selama beberapa jam lamanya. Sembari proses pembakaran itu, babi juga akan disembelih, lalu dimasak bersamaan di atas tungku sederhana.
Tidak diperbolehkan makan atau masak menggunakan barang-barang modern. Mereka hanya bisa menggunakan peralatan alami seperti bambu atau tempurung kelapa yang telah didesain menjadi piring dan sendok.
Setelah proses masak selesai, pemberian makan pun segera dimulai. Para Mosalaki berkumpul, lalu memberikan nasi bakar tersebut, daging babi, dan moke kepada leluhur terlebih dahulu. Selama proses itu, mereka mengiringinya dengan doa-doa adat.
Usai memberi makan para leluhur, Para Mosalaki serta seluruh masyarakat mulai makan bersama. Nasi, daging babi, dan moke dihindangkan dengan alat makan tradisional.
Daging babi dimakan habis dan tidak boleh dibawa pulang. Sedangkan nasi tadi boleh di bawa dan kemudian dimakan bersama keluarga besar di rumah.
Tiga hari dalam Keheningan
Sore menjelang malam, ketika Para Mosalaki dan masyarakat yang mengikuti upacara selesai, mereka lalu kembali ke rumah-rumah.
Suasana kampung langsung sepi, tidak ada bunyi-bunyian, tidak deru suara motor, hanya bising cerita dari setiap rumah yang hampir tidak kedengaran.
Keheningan itu pertanda dimulainya masa keheningan. Selama tiga hari lamanya, mereka akan berpuasa, juga menjalani pantangan-pantangan.
“Kami percaya bahwa saat itu, para leluhur ada bersama kami, jadi kami harus menjalani pantangan itu agar nanti doa kami bisa didengar oleh mereka,” kata Dismas Diri.
Dismas Diri adalah warga Desa Korobhera yang sudah menjalani upacara ini selama bertahun-tahun. Sebagai warga desa yang lahir dan besar disana, ia mengetahui benar bagaimana proses dilaksanakannya upacara ini.
Larangan tersebut diantaranya, tidak masuk ke kebun, memotong tumbuh-tumbuhan, hanya boleh beraktivitas di luar rumah, mandi tidak diperkenanakan di rumah dan hanya boleh dilakukan di sungai. Selama di sungai, mereka tidak boleh membawa baju ganti.
Selama itu pula, mereka tidak diizinkan untuk mencuci piring dan membersihkan rumah. Semuanya itu bisa kalau masa pantangan ini telah selesai.
Saat makan diluar rumah, inilah rasa persaudaraan dan kekeluargaan terbentuk. Disana, mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, serta tidak memiliki dendam satu sama lain.
“Tidak ada kebencian disini, jika ada dendam bersama keluarga, disini kita bisa menghilangkan itu semua,”
Setelah tiga hari selesai, potongan bambu nasi tadi, lalu akan dibuang, diiringi teriakan dan bunyi-bunyian pertanda bahwa masa pantangan telah usai.
Kepercayaan yang turun temurun ini terus dijaga oleh masyarakat adat. Jika kedapatan melanggar, maka mereka harus mendapatkan sanksi. Membayar seisi masyarakat berupa beras dan daging babi, atau bisa sampai dengan nyawa.
“Ia dan itu sering kejadian kalau melanggar harus bayar atau bisa nyawanya yang melayang,”
Awal Dari Seluruh Rangkaian Ritual
Loka Po’o dengan pantangan tadi, hanya menjadi awal dari segala ritual yang akan dijalankan. Beberapa minggu berikutnya, ada ritual lain yang dijalankan di tempat berbeda, dengan permintaan yang berbeda pula.
Doa adat tersebut di sampaikan di beberapa tempat di antaranya adalah puncak gunung (Mase Ria) utntu meminta anugerah hujan, Mase Nggera Angi untuk meminta penutup angin dan penghalang badai yang datang, serta Mase Te’u untuk meminta penghalang hama padi seperti tikus.
Dalam setiap proses, mereka jalankan dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Para Mosalaki ini berjumlah 8 orang dengan stafnya yang bertempat di wilayah mereka masing-masing.
Jurnalis : Risna Ase








