Oleh: Johan De Brito Papa Naga
Tim Litbang Redaksi Wacana Indonesia
Catatan ini lahir dari disrupsi teknologi dan kebebasan pers yang menjadi dua pukulan terberat pers dalam menghadirkan jurnalisme yang berkualitas tanpa menjadikan aktivitas pers sebagai muatan politik.
Mari kita kuliti pelan-pelan sambil meratap Word Facts serta tarikan historis yang membawa aktivitas jurnalisme sampai sejauh ini
****
Di negara demokrasi, informasi ibarat oksigen yang menjadi barang publik. Jika terlambat menghirup oksigen maka kematian semakin dekat. Rakyat, penguasa, para elit dan semua yang terlibat ramai-ramai merebut, menguasai, bahkan memanipulasi oksigen tersebut untuk tidak mati lebih dahulu.
Jika diperhatikan secara baik, hari-hari ini terdapat beberapa kecenderungan sikap media dalam aktivitas jurnalisme. Pertama, sikap konservatif atau pro status quo. Sikap ini tampak pada liputan yang mengedepankan kisah suksesnya rezim yang berkuasa tanpa diimbangi dengan kritik atau evaluasi terhadap pengawalan kebijakan.
Kedua, sikap progresif-visioner. Sikap ini tampak pada liputan-liputan yang intens, mengulas isu-isu yang bersifat reformatif dengan tanpa atau secara terbuka.
Ketiga, sikap skeptis atau apatis. Sikap ini tampak pada liputan yang hanya menggunakan persitiwa sebagai momentum untuk menyajikan berita bisnis dan hiburan sebagai trade mark-nya.
Jika dalam kerja profesional seorang dokter terdapat istilah malpraktik, maka dalam kerja-kerja profesional lainnya dapat terjadi malpraktik, termasuk kerja-kerja jurnalisme. Terlihat berlebihan, namum istilah ini cocok untuk menggambarkan perilaku-perilaku media pers hari-hari ini. Proses kerja-kerja jurnalistik tidak lagi bersandar pada prosedur kerja dan kaidah jurnalistik, tetapi didasarkan pada berita yang mengasilkan uang bagi perusahan media, walaupun kualitas pemberitaan keluar dari semangat independensi jurnalistik.
Hal ini dbuktikan dengan hasil temuan Reuters Institute Digital News Report yang mehadirkan tingkat kepercayaan publik Indonesia hanya 36% terhadap pemberitaan media massa. Fakta ini dipengaruhi oleh aktivitas media yang tidak berimbang atau cover both side terhadap pemberitaan.
Media dan aktivitas jurnalistik mungkin tidak berhasil membuat publik memercayai sesuatu, tetapi selalu berhasil membuat publik memikirkan suatu isu. Ketika narasi yang dimanipulasi oleh media-media mainstream itu masuk dalam ruang diskusi publik, maka akan menjadi wacana yang dianggap benar oleh masyarakat.
Watchdog Journalism Versus Keberpihakan Jurnalisme Politik
Jika meminjam istilah Noam Chomsky jurnalisme yang bermuatan politis pada awalnya dikenal sebagai “jurnalisme propaganda”, yaitu praktik jurnalisme “siap saji”, yaitu suatu produk jurnalisme yang mewadahi kepentingan dominan, yang pada umumnya dikontrol oleh uang dan kekuasaan.
Dalam buku yang ditulis oleh Edward Herman berjudul Manufacturing Consent, Edward menyebutkan propaganda model jurnalisme adalah aktivitas pers yang dikontrol kekuatan elit dan media melakukan sensor internal untuk memproteksi masuknya ide-ide populis yang berbasis kesadaran publik.
Hari-hari ini dapat kita lihat kantor berita membangun hubungan-hubungan dengan lembaga-lembaga yang punya orientasi sehingga mengorbankan netralitas. Media arus utama kehilangan pangsa pasar dibandingkan dengan media alternatif lainnya, semisal, media sosial, Tik Tok maupun Youtube. Kenapa? Mungkin mereka tidak lagi bertindak sebagai agen pengawas sosial (social control) dan penjaga moral. Juga bukan sekadar pelapor berita harian. Yang mereka dapatkan hanyalah terlihat baik di mata pimpinan redaksi, elit, dan kelompoknya dan mungkin saja mendapat bagian yang lebih besar dari kue yang semakin menyusut.
Mari kita kuliti lebih jauh. Nyoto, seorang yang dikenal sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) mengatakan bahwa jurnalisme politik adalah jurnalisme kaum borjuis. Jurnalisme borjuis menganggap kesakitan orang yang digigit anjing bukanlah sesuatu yang disukai pembaca tetapi orang yang menggigit anjing sebagai peristiwa aneh, sensasional, dan menghibur. Itulah yang harus ditulis karena layak dijual. Apakah jurnalisme hari ini sama seperti jurnalisme borjuis? Mungkin saja tidak tapi tentu saja iya.
Kecendrungan media pers dalam pilihan keberpihakan politik-nya dapat kita lihat sebagai berikut.
Pertama, terkonsentrasinya kepemilikan media pada kelompok elit kekuatan ekonomi yang secara keamanan bisnis yang secara keamanan politik masih bergantung pada keuatan politik penguasa. Kedua, orientasi komersial yang terlampau berlebihan. Ketiga, tradisi jurnalistik yang masih konvensioanal serta bergantung pada tiga lingkaran elit dalam masyarakat; pembisnis, pemerintah dan pakar atau akademisi, tanpa mencari pemberitaan yang digali berbasis informasi dari kalangan lapis bawah atau grassroot people yang jarang mendapat tempat layak sebagai pembuka perdebatan, apalagi sebagai berita utama.
Media pers dan aktivitas jurnalistik memiliki tanggungjawab untuk memastikan bahwa teknologi hanya alat yang membantu meningkatkan kualitas jurnalisme, bukan sebaliknya. Jurnalisme harus melampaui peristiwa tanpa meninggalkan fakta.
Sudah sejauh ini, dari Arca Diurna sebagai aktivitas jurnalisme pertama di dunia yang ada di kekaisaran romawi pada tahun 100-44 SM hingga menuju Indonesia emas tahun 2045, kemana arah jurnalisme dan media pers Indonesia?
Aktivitas jurnalisme yang sehat keluar dari media pers yang sehat, media pers yang sehat bersandar pada redaktur-redaktur yang punya paham populis bukan politis. Selamat memperingati Hari Pers Nasional tahun 2026.













