Maumere, wacanaindonesia.id-Sejumlah keluarga besar Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) bersama keluarga korban menggelar Misa Perayaan Ekaristi untuk keselamatan arwah almarhumah STN (14), siswi kelas VIII SMP MBC ohe asal Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka. Misa berlangsung di Gereja Paroki Spirito Santo Misir pada Rabu (18/03/2026) sore.
Misa tersebut bertujuan mendoakan jiwa Adik Noni agar dapat beristirahat dalam damai bersama Kristus serta memohon kerahiman Tuhan.
Usai prosesi misa, dilakukan perarakan dari Gereja menuju Patung Kristus Raja untuk melakukan aksi duka dengan menyalakan 1.000 lilin.
Dalam aksi tersebut, pihak keluarga menyampaikan pernyataan tegas terkait lambannya penanganan kasus dan dugaan ketidakprofesional penyidik.
Mewakili keluarga, Fabianus Beto menyatakan keraguan besar terhadap penetapan tersangka tunggal yang saat ini masih berusia 16 tahun. Menurutnya, konstruksi kasus ini mengarah pada pembunuhan berencana yang sangat rapi, sehingga mustahil dilakukan oleh seorang anak tanpa keterlibatan pihak lain.
Kejanggalan di Tempat Kejadian Perkara (TKP)
sementara itu, keluarga menyoroti kinerja penyidik Polres Sikka yang dinilai tidak menyeluruh dalam mengamankan lokasi kejadian. Dalam penelusuran mandiri (napak tilas) yang dilakukan keluarga bersama kuasa hukum dari Orin Bao Law Office ditemukan fakta lapangan yang mengejutkan.
“Garis polisi (Police Line) hanya dipasang di bagian depan, tidak mengelilingi seluruh area rumah yang menjadi satu kesatuan tempat kejadian. Kami justru menemukan bekas darah dan lokasi pembakaran sesuatu di area yang tidak dijaga polisi,” ungkap perwakilan keluarga.
Hingga kini, keluarga mempertanyakan keberadaan sejumlah barang bukti krusial yang masih hilang, antara lain: pakaian dan ponsel milik korban, rambut korban, hingga potongan tiga jari korban yang belum ditemukan.
Tuntutan Supervisi dari Polda NTT dan Mabes Polri
Kekecewaan keluarga memuncak karena merasa polisi bekerja tidak profesional dan transparan hanya berdasarkan keterangan sepihak dari pelaku, tanpa menggali lebih dalam dugaan keterlibatan aktor intelektual lain yang identitasnya diklaim sudah pernah disodorkan kepada penyidik.
“Kalau memang Polres Sikka tidak mampu, kami minta supervisi dari Polda NTT atau bahkan Mabes Polri.
Ini nyawa manusia, ini pembunuhan berencana, bukan kasus biasa. Jangan biarkan penyidik hanya duduk di kantor tanpa turun ke TKP secara intensif,” tegasnya.
Ancaman Aksi Massa yang Lebih Besar
Dukungan terhadap keluarga korban kini terus mengalir dari berbagai organisasi, mulai dari THS-THM, FORKOMA, PMKRI Cabang Maumere, GMNI, BEM Unipa, GRIP JAYA, hingga elemen Mahasiswa di Jakarta.
Pihak keluarga menegaskan tidak akan mundur dan siap mengerahkan massa yang lebih besar jika tuntutan akan transparansi tidak segera dipenuhi.
“Kami tidak peduli siapa pun yang ada di belakang pelaku. Polisi harus berani mengungkap kebenaran. Jika proses ini tetap lambat dan barang bukti tidak ditemukan, kami akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang jauh lebih banyak,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan dari pihak kepolisian resor Sikka belum memberikan kejelasan, dan pihak mediapun masih tetap upayakan untuk menghubungi.
****
Jurnalis: Niko Sanggu
Editor: Redaksi








