Maumere, wacanaindonesia.id-Komitmen membangun sumber daya manusia berbasis budaya baca kembali ditegaskan oleh Ny. Fista Sambuari Kago, dalam sebuah wawacara di Studio Radio Suara Sikka, Maumere, Selasa (3/03/2026).
Dalam wawancara tersebut, Ny. Fista Kago, mengungkapkan, bahwa penyematan gelar sebagai Bunda Literasi yang diterimanya pada 26 Februari 2026 lalu, bukan karena alasan politis, tetap lebih merupakan tanggungjawab akan panggilannya sebagai isteri seorang kepala daerah.
“Saya dikukuhkan menjadi Bunda Literasi kabupaten Sikka bukan sekadar asal-asalan, atau karena isteri seorang bupati. Tetapi itu merupakan konsekuensi logis dari sistem birokrasi pemerintah. Dan hal itu diatur dalam Peraturan Perpustakaan Nasional No. 4 Tahun 2021 tentang Akademi Literasi, yang dimana di dalam pedoman ini disebutkan bahwa kriteria Bunda Literasi tingkat daerah (Provinsi/Kabupaten) adalah sosok figur ibu atau istri Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Wali Kota), yang memiliki komitmen tinggi dalam memajukan budaya baca”, tegas Ny. Fista Kago.
Meski demikian, bukan berarti bahwa gelar Bunda Literasi yang diterima bukan hanya sebatas seremonialisme birokrasi, tetapi menuntut tanggungjawab, pengorbanan dan pengabdian dalam mendorong pertumbuhan literasi di kabupaten Sikka. Bagi Ny. Fista Kago, menjadi Bunda Literasi berarti menuntut komitmen untuk terus membangun budaya baca masyarakat.
“Saya punya komitmen untuk terus meningkatkan budaya literasi membaca lewat berbagai program dan gerakkan, agar dapat menumbuhkan minat belajar siswa”, tegas Ny. Fista Kago.
Menurutnya, gerakan literasi merupakan suatu panggilan untuk melayani dengan hati.
” Saya menjadi Bunda Literasi ini sama sekali tidak digaji. Mau menyandang gelar apapun, misalnya PKK atau Bunda PAUD merupakan panggilan untuk saya sebagai seorang Istri Kepala Daerah. Saya berkomitmen untuk terus menggerakkan literasi, dan mendukung anak-anak di Sikka untuk terus membaca dan belajar”, ungkap Ny. Fista Kago.
Dalam menumbuhkan minat baca pelajar dan masyarakat, Ny. Fista Kago telah merancang sejumlah gerakkan dan program untuk mendukung pertumbuhan literasi di Sikka.
“Jadi saya tegaskan, bahwa gerakkan literasi yang saya bangun ini adalah gerakan dengan hati. Dan saat ini kami sedang merancang Program Gerakan Membaca, yaitu mendorong dan mewajibkan setiap sekolah untuk memberikan kesempatan kepada siswa membaca 15-30 menit sebelum KBM dimulai”, tandasnya.
Dalam wawancara tersebut, ia mendorong sikap konsistensi, optimisme dan meminta kerja sama semua pihak, agar budaya baca di kabupaten Sikka bukan hanya sekadar program gigantis semata, tetapi dijadikan suatu budaya dan gaya hidup.
“Saya kira gerakan ini harus konsisten. Saya optimis, kabupaten Sikka akan menjadi lebih baik ke depan. Dan indeks Literasi Kabupaten Sikka akan Naik. Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua, mari jadikan kegiatan membaca sebagai lifestyle atau gaya hidup”, tutup Ny. Fista Lago
****
Jurnalis: Melky Bata
Editor: Redaksi








