Labuan Bajo, wacanaindonesia.id– Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PMKRI Cabang Labuan Bajo Sanctus Fransiskus Asisi Periode 2025-2026 melaksanakan audiensi dengan Keuskupan Labuan Bajo pada Rabu, 25 Maret 2026. Pertemuan ini bertujuan mempererat relasi dan membuka peluang kerja sama strategis antara organisasi mahasiswa dengan pihak Keuskupan.
Ketua PMKRI Labuan Bajo, Fransiska Heldiana Juita, menyatakan pertemuan ini merupakan kerinduan untuk berdialog langsung dengan Bapa Uskup. Ia menegaskan kesiapan organisasi berkontribusi melalui gerakan ekologis, pendampingan orang muda, diskusi publik, hingga ekonomi kreatif.
“PMKRI siap berkolaborasi dalam berbagai program keuskupan serta membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak,” ungkap Fransiska.
Pastor Moderator PMKRI Labuan Bajo, Pater Tukan, SDB, menilai kepengurusan baru ini membawa kebangkitan setelah dinamika internal yang sempat redup. Namun, ia menyoroti kebutuhan mendesak akan sekretariat (Marga Siswa) permanen.
“Selama proses pendampingan ini, saya melihat semangat teman-teman PMKRI mulai tumbuh kembali. Kepengurusan yang baru ini menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat kaderisasi, memperkuat kebersamaan, dan menghidupkan kembali gerak organisasi ke arah yang lebih baik,” ungkap Pater Tukan.
Ketua Dewan Pertimbangan, Robi Dos, menekankan peran PMKRI dalam membentuk kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas dan peka terhadap ketimpangan sosial di Labuan Bajo.
Dukungan dan Pesan Uskup Maksimus Regus
Direktur PUSPAS, Romo Charles, menyambut baik rencana kerja sama. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Keuskupan, Romo Frans Nala, meminta kader mendalami Ajaran Sosial Gereja dan tiga benang merah organisasi.
“PMKRI harus lebih aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi gerakan organisasi serta menghadirkan kajian-kajian nyata dalam merespons isu-isu sosial di tengah masyarakat,” ujar Romo Frans Nala.
Vikjen Keuskupan, Romo Rikar Manggu, menambahkan pentingnya kolaborasi dengan organisasi Katolik lain seperti Pemuda Katolik dan ISKA.
Sementara itu, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan bahwa PMKRI adalah wadah formasi iman dan ruang bertumbuhnya cita rasa kemanusiaan.
“PMKRI diharapkan mampu melahirkan pribadi-pribadi yang matang, kritis, dan siap melayani. Menjadi bagian dari PMKRI berarti menikmati proses formasi iman dan insan, menjadi Katolik tetapi semakin menjadi manusia,” tegas Mgr. Maksimus Regus.
Terkait Marga Siswa permanen, Bapa Uskup menyatakan hal tersebut akan dibahas lebih lanjut di internal Keuskupan. Meski demikian, beliau mendukung penuh sinergi program antara PMKRI dan arah pastoral Keuskupan.
Audiensi ini ditutup dengan harapan dari Fransiska Heldiana Juita agar PMKRI terus menjadi wadah pembinaan kader yang unggul secara intelektual dan memiliki kepedulian nyata terhadap masyarakat.
****
Kontributor: DPC PMKRI Labuan Bajo
Editor: Niko Sanggu








