
Agenda pelantikan pengurus kecamatan PDI-P ini berlangsung di Sekretariat DPC PDI-P Kabupaten Sikka pada Rabu (29/4/2026).
Laporan reporter Wacanaindonesia.id (Nikolaus Sanggu)
Maumere, wacanaindonesia.id– PDI Perjuangan terus memperkuat struktur organisasinya hingga ke akar rumput. Kini partai PDI-P tersebut melaksanakan Musyawarah Anak Cabang (Musancab) guna untuk membentuk kepengurusan baru di tingkat kecamatan. Agenda pelantikan ini berlangsung di Sekretariat DPC PDI-P Kabupaten Sikka pada Rabu (29/4/2026).
Dalam arahannya, Andreas Hugo Pareira (AHP) menekankan bahwa bergabung menjadi pengurus partai bukanlah sekadar rutinitas formalitas atau ajang gagah-gagahan dengan atribut partai. Menjadi politisi adalah sebuah panggilan jiwa untuk berbuat nyata bagi masyarakat Sikka.
Pendidikan politik yang ditekankan dalam forum ini adalah kesamaan substansi antara mengurus partai dan mengurus negara. Keduanya memiliki muara yang sama, yakni memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Mencari kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan masuk untuk terlibat dalam mengurus negara. Mengurus negara berarti mengurus kepentingan rakyat,” tegas Hugo.
Ia menambahkan bahwa struktur partai yang dibentuk secara berjenjang—dari tingkat nasional hingga kecamatan—merupakan cerminan dari sistem ketatanegaraan Indonesia.
Hal ini bertujuan agar aspirasi rakyat di tingkat paling bawah dapat terakomodasi dan diperjuangkan melalui jalur politik yang terorganisir.
Selain itu, Andreas ingin setiap kader sadar bahwa nasib ribuan perut rakyat di Sikka bergantung pada keputusan politik yang mereka ambil. Baginya, menjadi politisi berarti menyerahkan diri pada tanggung jawab moral yang berat.
“Setiap usaha dan kerja keras harus diarahkan bagi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan NTT, Yunus H. Takandewa, memperingatkan para kader untuk berhenti bersikap sombong dan merasa sudah hebat dengan cara-cara kuno. Di era digital ini, rakyat memiliki mata yang tajam untuk melihat mana pemimpin yang tulus dan mana yang hanya datang saat membutuhkan suara.
“Untuk memenangkan simpati rakyat saat ini, kader tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang kurang efektif,” ucap Yunus.
Lebih lanjut, Yunus menekankan bahwa Sikka adalah simbol harga diri partai. Di satu sisi, Sikka merupakan basis kekuatan, namun jika pertahanan di wilayah ini rapuh, maka runtuhlah kekuatan perjuangan di NTT secara keseluruhan.
Oleh karena itu, selanjutnya ia menuntut perubahan total dalam organisasi, mulai dari pola komunikasi hingga mentalitas para kader. Baginya, menang di kertas pemilu tidak akan ada artinya jika partai kalah di hati masyarakat.
Kini, pilihan kembali ke tangan rakyat: apakah politik akan dibiarkan berjalan tanpa arah, atau memberikan dukungan kepada mereka yang berani berkomitmen untuk benar-benar mengurus urusan rakyat?
****








