PMKRI: Negara Tidak Boleh Kalah dan Takut terhadap Kekerasan Bersenjata
wacanaindonesia.idMAUMERE, NUSA TENGGARA TIMUR — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere mengutuk keras penembakan yang menewaskan tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Dari tiga korban, dua merupakan warga asal NTT, yakni drh. Alfonsius Albinus Mehan asal Kabupaten Sikka dan Wili Mbuik asal Kabupaten Rote Ndao. Keduanya berada di Papua dalam rangka menjalankan tugas dan pelayanan kepada masyarakat.
Bagi PMKRI Maumere, peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kekerasan biasa. Penembakan terhadap aparatur negara yang sedang menjalankan tugas menunjukkan adanya ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat sipil dan pelayanan publik di wilayah konflik.
Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Maumere, Melki Bata, mendesak Kapolri dan Panglima TNI turun tangan secara serius untuk memastikan pelaku segera diburu, ditangkap, diproses secara hukum, dan diadili.
“Negara tidak boleh kalah dan takut terhadap kekerasan bersenjata. Kalau warga sipil dan aparatur negara dapat dibunuh ketika menjalankan tugas, maka negara harus menjawabnya dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.”
PMKRI Maumere juga meminta aparat tidak berhenti pada penangkapan pelaku, tetapi mengungkap secara menyeluruh motif, jaringan, pihak yang membantu, serta seluruh rangkaian aksi kekerasan apabila terbukti berdasarkan proses penyidikan.
RITO NAGA: NEGARA JANGAN HADIR SETELAH KORBAN BERJATUHAN
Sementara itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Maumere, Rito Naga, menilai kasus tersebut menjadi alarm serius bagi negara. Menurutnya, keselamatan masyarakat sipil dan aparatur yang menjalankan tugas tidak boleh menjadi taruhan dalam situasi konflik bersenjata.
“Negara tidak boleh hadir hanya setelah korban berjatuhan. Keselamatan masyarakat sipil harus menjadi prioritas. Pemerintah dan aparat keamanan harus memastikan setiap warga negara yang menjalankan tugas dan pelayanan di wilayah konflik mendapatkan perlindungan.”
Rito menegaskan, kasus tersebut tidak boleh berhenti sebagai pemberitaan sesaat tanpa ada pertanggungjawaban.
“Kami tidak ingin kasus ini berhenti sebagai berita hari ini lalu dilupakan besok. Harus ada tindakan nyata, pertanggungjawaban hukum, dan evaluasi terhadap sistem keamanan di wilayah rawan konflik. Negara harus membuktikan bahwa hukum masih memiliki kekuatan untuk melindungi rakyat.”
Ia juga menegaskan bahwa PMKRI Maumere akan mengawal perkembangan kasus tersebut, terlebih karena dua korban merupakan warga NTT.
“Dua warga NTT gugur ketika menjalankan tugas di tanah Papua. Duka keluarga korban adalah duka kita bersama. Karena itu, kami meminta keadilan tidak berhenti pada ucapan belasungkawa. Pelaku harus segera ditangkap dan diproses sesuai hukum.”Tegasnya
PMKRI MAUMERE MENUNTUT
1. Kapolri dan Panglima TNI turun tangan memastikan pengejaran dan penangkapan pelaku.
2. Usut tuntas motif, kronologi, jaringan, dan seluruh pihak yang terlibat.
3. Tangkap, proses, dan adili setiap pelaku yang terbukti bersalah.
4. Pastikan keamanan masyarakat sipil dan aparatur negara yang menjalankan tugas di wilayah rawan konflik.
5. Pastikan hak dan pendampingan keluarga korban dipenuhi oleh negara.
PMKRI Cabang Maumere menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga seluruh korban dan menegaskan akan terus mengawal proses hukum kasus tersebut.
“Jangan biarkan darah warga NTT berakhir tanpa keadilan. Pelaku harus ditemukan, ditangkap, diproses, dan diadili. Negara harus hadir dan hukum harus ditegakkan.”
Editor : Redaksi









