Jakarta, wacanaindonesia.id-Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat. Merespons kondisi tersebut, Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Periode 2026–2028 mengambil langkah konkret dengan membentuk Satuan Tugas (SATGAS) Kemanusiaan sebagai bagian dari upaya solidaritas dan pelayanan kemanusiaan.
Di bawah kepemimpinan Christian Alesandro Delviero Rettob (Delvis Rettob) selaku Mandataris MPA/Formatur Tunggal/Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Periode 2026–2028, Satgas dibentuk melalui kolaborasi bersama seluruh cabang PMKRI se-Indonesia, senior PMKRI, serta berbagai pihak eksternal.
“Satgas Kemanusiaan ini sebagai bentuk solidaritas PMKRI secara nasional terhadap saudara-saudari kami yang terdampak gempa di Flores dan Karhutla di Kalimantan”, ungkap Delvis Rettob saat diwawancarai media ini, pada Rabu 2 September 2026.
Satgas Kemanusiaan ini melibatkan kader-kader PMKRI dari berbagai cabang di seluruh Indonesia. Dalam pembentukan satgas ini, Febrian Muda dipercayakan sebagai Koordinator Nasional untuk mengonsolidasikan gerakan dan memastikan respons kemanusiaan dapat berjalan secara cepat, terarah, dan tepat sasaran.
Pada tahap awal, Satgas telah membentuk beberapa divisi, di antaranya Divisi Dana dan Divisi Assessment. Struktur dan pembagian tugas tersebut akan terus disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan di lapangan.
“Untuk saat ini, langkah taktis sangat dibutuhkan karena gerakan cepat perlu segera dilaksanakan. Kita tidak ingin terlalu lama berada pada tahap wacana. Data dan kebutuhan lapangan harus segera dikumpulkan agar bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Febrian Muda.
Saat ini, Satgas masih berada pada tahap pengumpulan data, assessment, serta pemetaan kebutuhan mendesak masyarakat terdampak. Tim akan turun langsung ke lokasi sesuai dengan kebutuhan dan hasil assessment di lapangan.
Selain melakukan aksi secara langsung, Satgas juga akan menjadi bagian dari mekanisme distribusi bantuan bagi cabang-cabang PMKRI yang memiliki keterbatasan untuk turun langsung ke lokasi bencana. Bantuan yang dipercayakan melalui Satgas akan dikoordinasikan dan disalurkan dengan mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, tepat sasaran, dan tepat tujuan.
PP PMKRI juga membuka donasi kemanusiaan bagi masyarakat dan berbagai pihak yang ingin mengambil bagian dalam gerakan solidaritas ini. Setiap amanah yang dipercayakan kepada Satgas akan dipertanggungjawabkan dan diupayakan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Gerakan kemanusiaan ini tidak hanya berfokus pada bencana di NTT. Satgas juga memberikan perhatian terhadap kondisi bencana di Kalimantan. Koordinasi awal dengan berbagai pihak telah dilakukan sebagai bagian dari upaya pemetaan kondisi dan kebutuhan di wilayah terdampak.
Bagi PMKRI, kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah, kepentingan, maupun sekat organisasi. Solidaritas harus hadir ketika masyarakat membutuhkan.
“Mari saling menguatkan dan mengulurkan tangan. Di tengah situasi bencana, kehadiran kita mungkin sederhana, tetapi bagi mereka yang sedang kehilangan, solidaritas sekecil apa pun dapat menjadi kekuatan untuk bangkit.”, ungkap Febrian.
PP PMKRI mengajak seluruh kader, senior, alumni, masyarakat, serta berbagai pihak untuk bersama-sama mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan ini.*
Editor: Dino Bella









