Sikka, NTT — Gempa bumi yang berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, masih menyisakan kesulitan bagi sebagian warga terdampak.
Di RT 09/RW 010, Dusun Woloara, Desa Dobo, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, sebanyak 11 rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga tidak lagi berani menempati rumah mereka dan memilih membangun posko pengungsian secara mandiri dengan kemampuan seadanya.
Salah seorang warga, Ibu Marta, yang mewakili suara warga terdampak, mengatakan sejak hari pertama gempa, masyarakat harus mengambil inisiatif sendiri untuk mencari tempat berlindung.
“Sejak dari hari pertama kejadian, kami di kampung ini, yang rumah rusak berat itu ada 11. Makanya kami punya inisiatif, kami buat posko sendiri, kami swadaya sendiri, supaya kami bisa berlindung dari gempa, karena rumah kami sudah hancur semua,” ungkap Ibu Marta.
Bagi warga, persoalan yang dihadapi tidak berhenti pada rumah yang rusak. Di tengah kondisi pascagempa, kebutuhan dasar seperti makanan dan air minum bersih menjadi persoalan yang terus mereka hadapi.
Menurut Ibu Marta, warga masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan air minum bersih, sebagian warga bahkan harus mengeluarkan uang sendiri.
“Kami banyak yang pertama itu kekurangan makanan seperti beras. Yang kedua air minum, karena air minum bersih ini, khususnya kami di Dusun Woloara, kalau mau minum air, kami harus beli sendiri,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, warga mengaku berada dalam kondisi serba sulit. Mereka harus memikirkan keselamatan dan tempat tinggal, namun pada saat yang sama tetap harus berjuang memenuhi kebutuhan makan dan minum.
“Jadi dalam keadaan kondisi ini, mana kami harus cari makan, kami harus cari minum,” ujarnya.
Bantuan Baru Sekali, Warga Memilih Membagi Rata
Ibu Marta mengakui pemerintah desa telah menyalurkan bantuan kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Namun, menurutnya, bantuan tersebut baru diterima satu kali, yakni pada tanggal 19 Agustus 2026.
Bantuan yang diterima berupa sekitar enam kilogram beras, dua papan telur, dua liter minyak goreng, serta minyak kayu putih.
Namun, bantuan yang awalnya diberikan kepada warga dengan kategori rumah rusak berat itu akhirnya tidak dinikmati sendiri oleh para penerima. Setelah muncul keluhan dari warga lain yang juga terdampak dan membutuhkan bantuan, mereka memilih membagi bantuan tersebut secara bersama-sama.
“Pada saat pembagian dari desa diberikan itu khusus kami yang memang rumah kami rusak berat. Tetapi banyak pengaduan dari masyarakat bahwa mereka semua juga butuh perhatian dari desa,” jelas Ibu Marta.
Menurutnya, warga memahami bahwa bantuan untuk pembangunan atau perbaikan rumah memang dapat diprioritaskan bagi mereka yang mengalami kerusakan berat. Namun untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan air minum, warga menilai perhatian perlu menjangkau masyarakat lain yang juga terdampak gempa.
Akhirnya, bantuan yang diterima dikumpulkan dan dibagi kembali kepada warga lain.
“Beras itu digabungkan bersama baru kami bagikan rata. Ada yang dapat telur dua buah saja, dengan beras sekitar tiga kaleng. Itu pun kami bagi ke mereka, supaya adil, karena masyarakat merasa kita semua mengalami gempa,” tutur Ibu Marta.
Keputusan untuk membagi bantuan tersebut, menurut warga, dilakukan sebagai bentuk solidaritas di tengah keterbatasan.
Namun di sisi lain, kondisi itu juga menggambarkan betapa bantuan yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak warga yang sama-sama membutuhkan.
Posko tersebut dibangun secara swadaya dengan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar kampung. Warga pun masih menghadapi keterbatasan perlengkapan untuk beristirahat.
Mereka membutuhkan alas tidur, tikar, selimut, makanan, air minum, serta tempat tinggal sementara yang lebih layak.
“Kami tetap berharap terus, semoga kami selalu diperhatikan,” kata Ibu Marta.
Ia berharap bantuan dan perhatian dari pemerintah tidak berhenti pada satu kali penyaluran saja, mengingat kebutuhan warga di lokasi pengungsian masih cukup besar.
“Kami butuh alas tidur, tikar, selimut, beras, air minum, minyak goreng, dan tempat tinggal yang layak. Mohon perhatian dari pemerintah, baik pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten,” harapnya.
Keluhan tersebut, kata Ibu Marta, bukan semata-mata untuk meminta perhatian bagi warga yang rumahnya rusak berat. Ia berharap penanganan pascagempa juga memperhatikan kebutuhan dasar masyarakat lain yang turut merasakan dampak bencana.
Camat Mego: Data 11 Rumah Sudah Diterima, Akan Ditindaklanjuti
Sementara itu, Camat Mego, Kustandi Lerang, saat dikonfirmasi wartawan menjelaskan bahwa pemerintah desa telah melakukan pendataan terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Menurutnya, data terkait 11 rumah warga yang dilaporkan mengalami kerusakan telah diterima pihak kecamatan dan selanjutnya akan ditindaklanjuti ke tingkat Kabupaten Sikka.
“Pendataan sejumlah 11 rumah warga yang rusak sudah kami terima dari desa, tinggal ditindaklanjuti ke kabupaten,” ujarnya.
Terkait bantuan kebutuhan pokok, Kustandi mengatakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten telah didistribusikan melalui kecamatan dan kemudian disalurkan ke desa.
Ia juga menyampaikan bahwa bantuan sembako direncanakan kembali didistribusikan ke desa.
“Besok akan didistribusikan bantuan berupa sembako ke desa,” tutupnya.
Penulis: Niko Sanggu
Editor: Niko Sanggu









