
Sejumlah warga terdampak 430 (KK) atau 1.436 jiwa di wilayah Kabupaten Nagekeo belum tersentuh bantuan. Foto, Tim.
Nagekeo, NTT wacanaindonesia.id— Sejumlah warga terdampak gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 Magnitudo pada Sabtu 15 Agustus lalu khususnya di RT 10/RW 03, Lingkungan III, Kelurahan Nagesapadhi, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, mengaku hingga kini belum menerima bantuan pemerintah secara langsung.
Keluhan tersebut disampaikan oleh Ibu Irawini, salah satu warga yang mewakili masyarakat terdampak. Menurutnya, terdapat sekitar 430 kepala keluarga (KK) atau 1.436 jiwa di wilayah tersebut yang terdampak, namun sejak hari pertama bencana hingga saat ini masyarakat mengaku belum merasakan bantuan yang seharusnya mereka terima.
“Bantuan mungkin sudah drop ke posko-posko, tetapi sampai ke bawah, kami masyarakat ini belum mendapat,” ungkap Irawini kepada media saat dihubungi pada minggu, 23/8, pagi.
Ia menegaskan, persoalan utama bukan sekadar apakah bantuan sudah dikirim ke suatu wilayah, melainkan apakah bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Irawini, pemerintah perlu memastikan proses penyaluran bantuan dilakukan secara transparan dan tepat sasaran serta tidak berhenti di tingkat tertentu. Jika hal itu terjadi maka, kata dia, pemerintah gagal dalam pendistribusian bantuan sehingga tidak menjangkau semua warga terdampak.
“Kalau memang ada bantuan dari pemerintah, sampaikan bantuan itu langsung pada sasaran, pada masyarakat yang terdampak. Karena kalau pakai titipan-titipan, harus ke kelurahan, kelurahan ke dusun dan seterusnya ke bawah, kadang tidak sampai ke masyarakat,” katanya.
Ia juga berharap penyaluran bantuan dilakukan secara adil dan merata kepada masyarakat korban bencana tersebut.
“Kalau memang ada bantuan dari pemerintah, alangkah baiknya dikasih rata saja. Jangan sampai dikasih pakai pilih-pilih,” tegasnya.
Selain persoalan bantuan, Irawini juga menyoroti belum adanya perhatian langsung di lapangan yang dirasakan masyarakat di wilayahnya.
Menurutnya, hingga saat ini masyarakat belum melihat adanya pengecekan langsung dari pihak terkait di lingkungan mereka. Pendataan, kata dia, sejauh yang diketahui warga hanya dilakukan melalui pihak kelurahan dan staf.
“Untuk sampai saat ini, untuk di kelurahan kami, belum ada pengecekan langsung. Hanya melalui pihak kelurahan dan stafnya mungkin untuk pendataan,” ujarnya.
Karena itu, kata Irawini, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat terdampak memiliki arti yang sangat penting. Bahkan, menurutnya, bantuan itu bukanlah satu-satunya hal yang dibutuhkan masyarakat setelah bencana.
“Bantuan itu nomor dua. Yang nomor satu, paling tidak pemerintah datang melihat masyarakat, kasih penguatan untuk masyarakat. Itu yang dibutuhkan,” tuturnya.
Ia menyayangkan apabila masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit saat ini, justru merasa ditinggalkan tanpa kehadiran langsung dari pemerintah.
Selain itu, Irawini juga menekankan bahwa dampak gempa tidak seharusnya hanya dilihat dari rumah yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, seluruh masyarakat yang merasakan dan terdampak akibat bencana memiliki beban dan kesulitan masing-masing.
“Kalau mau bilang kita ini terdampak hanya mereka yang rumah hancur, apakah gempa hanya mereka?” katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam laporan yang disampaikan, jumlah masyarakat terdampak dimasukkan secara menyeluruh karena gempa dirasakan oleh seluruh warga, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa hingga lansia.
“Semua berdampak. Bedanya hanya di kerusakan,” ujarnya.
Atas dasar itu, ia berharap pemerintah dapat melihat dampak bencana secara lebih luas, termasuk kesulitan ekonomi dan kebutuhan hidup masyarakat setelah gempa.
Terpal dan Sembako Jadi Kebutuhan Mendesak!!!
Sementara itu, sejumlah kebutuhan dasar masih sangat dibutuhkan masyarakat terdampak. Salah satunya adalah terpal untuk tempat berlindung.
Irawini mengatakan masih terdapat warga yang harus tidur di tempat terbuka karena tidak memiliki tenda maupun terpal.
“Minimnya terpal untuk mengungsi, sampai kami di sini ada yang tidur di luar tanpa tenda. Yang lain mungkin punya terpal pribadi, tetapi ada orang yang tidak mampu memiliki terpal. Mereka tidur di luar, di tempat terbuka, ada yang hanya tutup dengan kelambu,” ungkapnya.
Selain tempat berlindung, kebutuhan sembako juga menjadi persoalan bagi masyarakat. Dampak bencana, menurut warga, semakin memperberat kondisi ekonomi, sementara masyarakat bergantung pada hasil kebun dan penjualan hasil bumi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Masyarakat mengalami kesulitan. Walaupun bantuan itu tidak seberapa, tetapi bisa untuk memenuhi kebutuhan mereka,” katanya.
Menurut Irawini, masyarakat membutuhkan perhatian serius, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi dan sedang berjuang memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Masyarakat Kelurahan Nagesapadhi kini berharap bantuan yang telah disalurkan pemerintah benar-benar dapat menjangkau warga terdampak hingga ke tingkat paling bawah.
Warga berharap agar proses pendataan dan distribusi bantuan dilakukan secara transparan, merata dan tepat sasaran, sehingga tidak ada masyarakat yang terdampak tetapi justru terlewatkan.
“Harapan kami, kalau memang bantuan itu ada, tolong langsung kepada masyarakat yang terdampak,” demikian harapan Irawini.
Penulis: Niko Sanggu
Editor: Niko Sanggu








