Menu

Mode Gelap
Tidak Ada Jaringan Internet, Siswa SDK 058 Lere-Mapitara Laksanakan Kegiatan TKA di Polindes Berkat Keberhasilan Tekan Pengangguran, Pemkab Sikka Raih Penghargaan Nasional dan Insentif 1 Miliar Rupiah Pelantikan DPP IKAL-Lemhannas, Capt. Marcellus Hakeng Soroti Pentingnya Hilirisasi Pangan dan Energi Polemik Transparansi Dana Lingkungan Cengkareng Barat Memanas, Ketua RT Tempuh Jalur Pidana dan Tolak Penonaktifan Gunakan Bahan Peledak Tangkap Ikan, Ditpolairud Polda NTT Rilis DPO Buru Warga Sikka Luncurkan Buku “The Pancasila Market Economy”, Pakar: Ekonomi Indonesia Butuh Keseimbangan Pasar, Negara, dan Nilai Luhur Lantaran Uang Rp 10 Ribu Rupiah, Oknum Anggota Sat. Lantas Polres Sikka Aniaya Anak di Bawah Umur

Opini

Aksi Mahasiswa Jangan Seperti Maling di Siang Bolong

Avatar photobadge-check


					Aksi Mahasiswa Jangan Seperti Maling di Siang Bolong Perbesar

Oleh : Yeriko Fernado

​Maumere, Wacana Indonesiaid.id–Demonstrasi adalah “anak kandung” demokrasi. Ia adalah instrumen sah bagi mahasiswa untuk menyuarakan kegelisahan rakyat. Namun, apa yang terjadi pada 1 April 2026 di Kabupaten Sikka—dengan penyegelan Kantor Bupati dan aksi yang merembet hingga ke Rumah Jabatan pada hari libur—memunculkan pertanyaan besar: Ini gerakan intelektual atau sekadar mencari sensasi visual?

​Mencuri Panggung di Hari Libur

Memilih hari libur sebagai waktu aksi adalah sebuah anomali logika. Kantor Bupati adalah simbol pelayanan publik. Jika massa datang menyegel kantor di saat aktivitas kedinasan sedang kosong, kepada siapa aspirasi itu hendak disampaikan?

​Aksi ini tak ubahnya seperti “maling di siang bolong”—datang saat penghuni tidak ada, melakukan perusakan simbolis (penyegelan), lalu pergi meninggalkan kegaduhan tanpa adanya dialog. Apakah mahasiswa kita kini begitu rapuh secara intelektual sehingga takut berhadapan langsung dengan data pemerintah, dan memilih gembok sebagai pengganti suara? Gerakan mahasiswa seharusnya bertujuan untuk konfrontasi ide, bukan sekadar memasang gembok di pintu kantor yang tak berpenghuni. Jika aksinya dilakukan saat sepi, patut diduga ini hanyalah upaya mencuri panggung opini publik tanpa berani beradu argumen secara jantan dengan pengambil kebijakan.

Rumah Jabatan dan Batas Etika

Titik aksi yang merembet ke Rumah Jabatan (Rujab) juga menunjukkan adanya degradasi etika dalam berdemonstrasi. Rujab, meskipun fasilitas negara, adalah ruang privasi bagi pemimpin dan keluarganya. Membawa kegaduhan ke wilayah domestik di hari istirahat menunjukkan bahwa koridor aksi telah bergeser dari kritik kebijakan menjadi intimidasi personal.

​Lebih jauh lagi, tindakan penyegelan kantor pemerintah—meskipun dilakukan di hari libur—memiliki konsekuensi serius. Secara hukum, fasilitas negara adalah aset rakyat untuk pelayanan publik. Tindakan vandalisme simbolis ini bukan hanya merusak tatanan birokrasi, tetapi juga menunjukkan ketidakhormatan terhadap aturan main dalam bernegara.

Menyatakan satu tahun kepemimpinan sebagai kegagalan total atau “rapor merah” tanpa indikator yang jelas adalah klaim yang sangat prematur. Pembangunan daerah bukanlah mie instan. Ada siklus APBD, ada regulasi pusat yang mengikat, dan ada masa transisi yang harus dilalui.

​Menilai kinerja tanpa kajian mendalam dan poin tuntutan yang konkret hanya akan menjatuhkan marwah organisasi mahasiswa itu sendiri. Publik tidak butuh narasi “pokoknya buruk”, publik butuh rincian: sektor mana yang gagal, data apa yang melandasi, dan solusi apa yang ditawarkan. Tanpa itu, kritik mahasiswa hanya akan menjadi polusi suara yang tidak bermakna bagi kemajuan daerah.

Mengembalikan Marwah Gerakan

Mahasiswa Sikka, khususnya yang tergabung dalam Cipayung Plus, memiliki sejarah panjang dalam mengawal pembangunan. Namun, aksi terakhir ini justru mencoreng wajah gerakan itu sendiri. Menyegel kantor bupati berarti menyegel harapan rakyat akan pelayanan. Rakyat tidak butuh drama; rakyat butuh hasil yang nyata bagi kesejahteraan mereka.

​Hentikan gaya aksi “maling di siang bolong” yang hanya berani menyegel saat sepi. Datanglah dengan data di hari kerja, buka ruang debat secara terbuka, dan biarkan akal sehat yang menang. Karena pada akhirnya, rakyat Sikka tidak butuh gembok di pintu kantor bupati; mereka butuh solusi atas masalah-masalah daerah yang mendesak.

Penulis : Yeriko Fernado

Editor   : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Arogansi Kekuasaan dan Matinya Ruang Dialog di Ende

11 Mei 2026 - 18:57 WIB

Epidemi Sunyi di Sikka: Membaca Gelombang Bunuh Diri dari Perspektif Sosial hingga Hukum

26 April 2026 - 23:25 WIB

PERCAYA DIRI TANPA KAPASITAS: WAJAH BARU KRISIS PUBLIK

26 April 2026 - 20:24 WIB

MATAHARI FLORES DI LANGIT LEMBANG: CATATAN PERJALANAN MENUJU KEDAULATAN PANGAN

20 April 2026 - 13:20 WIB

Mengapa Dapur Makanan Bergizi Gratis Tidak Butuh Borgol?

14 April 2026 - 15:23 WIB

Seorang pria berseragam polisi sedang mengaduk masakan di dalam panci besar
Trending di Opini