Ende, Wacanaindonesia.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ende melontarkan kritik tajam terhadap kondisi situs sejarah Bung Karno di Kabupaten Ende yang dinilai kian terbengkalai, pada jumat tanggal 27 maret 2026, yang di terima media ini.
Fernando Theobaldus Agung Wejo Delu, menjelaskan bahwa Kabupaten Ende bukan sekadar wilayah administratif di Nusa Tenggara Timur (NTT), melainkan rahim sejarah bangsa tempat di mana Soekarno merenungkan, menggali, dan merumuskan nilai-nilai luhur yang kemudian melahirkan Pancasila.
“Ende adalah ruang kontemplasi, ruang perlawanan, dan ruang kelahiran ideologi bangsa. Berbicara soal Pancasila, Ende harus jadi lokomotif dalam pancasilais.
Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang menyayat kesadaran sejarah. Situs-situs nasional seperti Taman Renungan Bung Karno, Rumah Pengasingan, Pemakaman Ibu Amsi, dan Gedung Imaculata justru terkesan ditinggalkan.”
Ia mengatakan, Mereka berdiri bukan sebagai monumen hidup yang membangkitkan semangat kebangsaan, melainkan seperti artefak sunyi yang perlahan kehilangan makna.
“Pemerintah hari ini seakan-akan menganggap bahwa hal ini tidak penting dan mengenyampingkan Ende sebagai bumi rahimnya PANCASILA. Ini adalah bentuk kelalaian ideologis.”
Sementara itu, kata Bung Agung ketika negara dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Ende gagal merawat situs sejarah, maka sesungguhnya negara sedang gagal merawat ingatan kolektif bangsanya sendiri.
“Padahal secara hukum, keberadaan situs-situs tersebut telah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Artinya, ada kewajiban moral dan konstitusional untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan situs tersebut.”
Selain itu, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya di mana minimnya perawatan dan lemahnya pengelolaan menjadikan situs-situs ini kehilangan daya tarik.
“Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, dan kesadaran ideologis generasi muda.”
Lebih jauh, dari perspektif Marhaenisme, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan alat perjuangan dalam membangun kesadaran rakyat.
“Bung Karno tidak pernah memisahkan antara sejarah dan revolusi. Maka, ketika situs sejarah dibiarkan rusak, sesungguhnya yang sedang dirusak adalah kesadaran revolusioner itu sendiri.”
Lebih lanjut, GMNI Ende mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Ende untuk segera merevitalisasi seluruh situs secara berkelanjutan dan mengoptimalkan peran Pendidikan dan Kebudayaan. Fernando Theobaldus Agung menegaskan tuntutannya.
“Kami menolak wacana pembangunan weather boom dan museum bahari di taman renungan bung karno. Rawatlah sejarah, atau kita akan kehilangan arah sebagai bangsa,” Tegasnya.
****
Kontributor: Bung Agung
Editor: Niko Sanggu








