RUTENG, NTT–Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng Sanctus Agustinus kembali mempertegas eksistensi intelektualnya melalui gelaran Masa Bimbingan (MABIM) ke-28, yang dilaksanakan di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, pada Kamis, 26 Februari hingga Minggu, 01 Maret 2026. Kegiatan pendidilan tersebut bernaung di bawan tema besar; “Berakar Dalam Iman, Bertumbuh Dalam Perjuangan”.
Agenda pendidikan dan kaderisasi tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi untuk mencetak kader yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketajaman dalam aksi sosial di tengah dinamika zaman yang kian kompleks.
Refleksi Internal: Menakar Integritas dan Respons Terhadap Isu Nasional
Ketua Panitia Pelaksana, Heri Arjo, dala. Laporannya menegaskan bahwa Masa Bimbimgan (MABIM), bukan hanya sekadar rutinitas kegiatan organisasi tahunan. Ia memaparkan bahwa persiapan teknis yang dilakukan merupakan manifestasi dari tanggungjawab kolektif dalam merawat keberlanjutan regenerasi di tubuh PMKRI Cabang Ruteng.
Heri menekankan pentingnya kedisiplinan dan militansi bagi para peserta selama proses pembinaan, mengingat tantangan zaman menuntut kesiapan mental yang jauh lebih kuat dibandingkan masa sebelumnya.
Sejalan dengan itu, Ketua Presidium PMKRI Cabang Ruteng, Margaretha Kartika dalam pidatonya menekankan urgensi keterlibatan pemuda pada ruang organisasi dan dinamika sosial kemasyarakatan.
Ia menjelaskan secara mendalam filosofi tema kegiatan yang menuntut adanya sinkronisasi antara nilai iman dengan keberanian dan keberpihakan organisasi perjuangan.
Selain menyampaikan apresiasi terhadap dukungan para alumni serta berbagai pihak, Kartika juga menyoroti isu nasional, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG).
PMKRI memberikan catatan kritis atas munculnya kasus keracunan dan dampak langsungnya bagi masyarakat, sembari menyuarakan kekhawatiran serius terhadap potensi munculnya pola korupsi baru dalam implementasi kebijakan tersebut.
Dukungan terhadap keberlanjutan proses ini juga ditegaskan oleh David Suda selaku perwakilan Anggota Penyatu PMKRI.
Ia mengingatkan para peserta mengenai tantangan nyata dalam realitas sosial yang harus dihadapi pasca-pendidikan formal di organisasi.
Kehadiran alumni menjadi penegas dukungan moral bagi para anggota agar tetap konsisten dalam jalur perjuangan yang seringkali berbenturan dengan kepentingan pragmatis di lapangan.
Sinergi Publik: Menyoroti Perlindungan Anak dan Stabilitas Wilayah
Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai melalui Kepala Dinas P3A, Maria Yasinta Aso, dalam kesempatan yang sama juga turut menyampaikan rasa bangga atas keterlibatan PMKRI dalam kehidupan sosial.
Ia memberikan apresiasi khusus terhadap kerja kolaborasi yang selama ini terjalin bersama Dinas P3A, terutama menyangkut isu perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.
Pada kesempatan tersebut, Yasinta memaparkan fakta kelam mengenai kondisi perlindungan anak yang sedang tidak baik-baik saja, di mana angka masalah terus meningkat setiap tahun.
Fenomena kehamilan usia remaja yang dipicu ketidaksiapan fisik, psikis, serta faktor ekonomi menjadi sorotan utama, mengingat pelaku kekerasan seringkali merupakan orang terdekat korban. Pemerintah menaruh harapan besar pada koordinasi berkelanjutan demi pemenuhan hak-hak perempuan di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, pada bidang keamanan dan ketertiban masyarakat turut diperkuat oleh kehadiran Kabag OPS Polres Manggarai yang mewakili institusi kepolisian.
Kehadiran otoritas keamanan ini memberikan gambaran mengenai pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga stabilitas daerah melalui cara-cara yang konstitusional.
Sinergi antara aktivis mahasiswa dengan aparat penegak hukum diharapkan mampu menciptakan iklim demokrasi yang sehat di Kabupaten Manggarai, terutama dalam mengawal kebijakan publik agar tetap berada pada koridor hukum yang berlaku.
Mandat Moral: Menjaga Etika Organisasi dan Marwah Gereja
Domi Waso, Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) yang hadir mewakili Gereja Katolik memberikan penegasan spiritual bagi para peserta Masa Bimbingan.
Sebagai organisasi yang berasaskan nilai-nilai Kristiani, PMKRI diharapkan terus menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara (vox populi vox dei).
Gereja menitipkan pesan agar setiap kader mampu mengejawantahkan ajaran sosial Gereja dalam setiap gerakan politik maupun sosial yang mereka tempuh, sehingga perjuangan organisasi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal.
Rangkaian kegiatan MABIM ke-28 ini dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pertimbangan (Depertim), Wilibrodus Kengkeng.
Dalam arahannya, ia mengingatkan seluruh peserta untuk senantiasa menjaga etika serta marwah organisasi di ruang publik.
Menjadi kader PMKRI berarti memikul beban sejarah sebagai pembela kebenaran yang harus tetap membumi.
Ia menekankan harapan agar proses bimbingan ini melahirkan kader kritis yang santun dan mampu memberikan solusi konkret bagi persoalan daerah.
Keberadaan kader baru ini diharapkan tidak sekadar pandai mengkritik tanpa bobot substansi yang jelas, namun mampu menjadi mitra kritis yang berkualitas bagi seluruh pemangku kepentingan.
****
Kontributor: Armin Nonggo
Editor: Redaksi








